TENGGARONG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Khususnya melalui pengelolaan Tangga Arung Square, yang mampu memberikan kontribusi besar bagi fiskal daerah.
Plt Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fatullah, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya diberikan target sebesar Rp1.350.000.000 atau Rp1,350 miliar untuk menyumbang PAD. Namun, melihat potensi yang ada, ia berharap angka tersebut bisa menembus hingga Rp2 miliar.
“Target kami kan hanya rendah, hanya Rp1.350.000.000 mudah-mudahan bisa lebih dari Rp2 miliar. Kita lihat potensi-potensi yang ada,” ungkap Sayid.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas retribusi, tanpa perlu adanya relaksasi atau pengurangan tarif bagi pedagang di Tangga Arung Square. Menurutnya, tingkat penjualan pedagang saat ini terus meningkat.
“Pedagang kita ini tingkat kepayuannya (laku) meningkat terus, jadi tidak perlu ada relaksasi lah. Harapan kita pedagang ini juga membantu pemerintah,” tambahnya.
Saat ini pemerintah di seluruh Indonesia sedang kesulitan fiskal, jadi kemampuan daerah harus didorong melalui organisasi perangkat daerah untuk menggali dan mengeksplorasi potensi yang ada. Agar tidak lagi ketergantungan pada Dana Bagi Hasil atau Transfer Keuangan Daerah.
Di lapangan, transformasi Tangga Arung Square mulai membuahkan hasil nyata. Ketua Pengelola Tangga Arung Square, Adi, melaporkan bahwa hingga tanggla 18 Februari 2026, setoran PAD yang sudah masuk ke kas daerah mencapai Rp53 juta. Peningkatan pendapatan ini dipicu oleh perubahan sistem pengelolaan dari konvensional ke sistem booth yang lebih tertata.
“Awalnya baru ada 10 booth dengan kontribusi Rp1,8 juta per unit. Sekarang jumlahnya sudah 20 booth, berarti otomatis kontribusi PAD-nya naik menjadi Rp3,6 juta per bulan,” jelas Adi.
Salah satu keunggulan Tangga Arung Square saat ini, dengan desainnya yang seragam, rapi, dan estetik. Sehingga memberikan kesan modern layaknya mall. Hal ini terbukti mulai menarik minat tenant besar, seperti pameran otomotif.
Perbandingan harga sewa di Tangga Arung Square jauh lebih murah dibandingkan pusat perbelanjaan modern lainya. Sebagai contoh untuk pameran mobil atau motor di mall, biayanya bisa mencapai Rp2 juta per hari atau Rp7–8 juta per bulan. Itu belum termasuk listrik dan air.
Sementara di Tangga Arung Square hanya berkisar Rp2–4 juta per bulan, sudah mencakup PAD, kebersihan, dan keamanan. “Bahkan untuk brand motor besar seperti Kawasaki, mereka kaget. Di mall satu minggu saja bisa Rp4–8 juta, di sini satu bulan cuma sekitar Rp5 juta untuk ukuran 3×4 meter dengan posisi yang semuanya strategis di depan,” ujar Adi.
Dengan konsep yang lebih modern, tertata, dan harga yang bersahabat bagi pelaku usaha, Disperindag Kukar yakin Tangga Arung Square akan meningkatkan ekonomi daerah.
Penulis: Shavira Ramadhanita



