TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), dr Aulia Rahman Basri, memberikan respons tegas terhadap pernyataan Fraksi PDI Perjuangan terkait Raperda Pengembangan Pondok Pesantren. Ia menyayangkan adanya tudingan yang menyebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar tidak berpihak, pada kemajuan pesantren di wilayah Kukar.
Bupati dr Aulia menegaskan bahwa kedekatannya dengan dunia pesantren bukan sekadar retorika. Ia menantang pihak-pihak yang melontarkan kritik untuk melihat langsung fakta di lapangan, mengenai aktivitas pemerintah daerah selama ini.
“Saya berani jamin lebih sering saya ke pesantren daripada orang-orang yang mengatakan itu. Jadi, dan teman-teman lihat sendiri bagaimana hubungan pemerintah daerah Kabupaten Kukar,” ungkap dr Aulia.
Ia juga mempertanyakan konsistensi pihak pengkritik dalam menjaga silaturahmi dengan organisasi keagamaan. “Saya mau tanya sekarang, siapa yang lebih sering mengikuti kegiatan safari subuh beserta teman-teman NU, Muhammadiyah, LDII. Ya, bisa lihatlah faktanya. Semua orang boleh berteori, semua orang boleh berpendapat, tapi kita lihat fakta di lapangan,” tambahnya
Terhadap tuduhan tidak mendukung pesantren, dr Aulia mengungkapkan mengenai keberpihakan anggaran dan program kerja. Saat ini, Pemkab Kukar telah menggulirkan program bantuan sosial bagi para santri yang menyasar ribuan penerima manfaat.
“Tidak mungkin pemerintah daerah Kabupaten Kukar itu tidak berpihak pesantren. Sekarang kita luncurkan program itu untuk 2.662 santri biaya bantuan hidup Rp250 ribu per bulan,” tegasnya.
Ia mengaku kaget dengan adanya narasi negatif yang berkembang, yang menurutnya tidak masuk akal. Ia meminta agar isu agama dan pesantren tidak dijadikan komoditas politik atau sekadar bahan untuk mencari sensasi yang dapat memicu kegaduhan.
“Kalau mau cari sensasi, jangan gitu lah. Apalagi kan pesantren, masalah agama, ya kan. Sesuatu yang tidak harus dijadikan sebuah masalah. Maksud saya gini, kita ini sekarang bertujuan bagaimana menjaga kondusivitas daerah,” jelasnya.
Ia pun mengajak semua pihak untuk bersinergi membangun daerah daripada membesarkan masalah yang belum jelas duduk perkaranya.
“Gunakanlah energi itu, itu benar-benar untuk membangun daerah kita, bukan untuk hal-hal yang kecil yang sebenarnya ini belum tentu ujung pangkalnya seperti apa, ini dijadikan bahan untuk digoreng-goreng,” tutupnya.
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Afi



