TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus berkomitmen memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa. Bupati Kukar, dr Aulia Rahman Basri, mengatakan bahwa dalam meresmikan lumbung pangan dalam bentuk rice milling yang dimiliki oleh Desa Sungai Payang. Nantinya akan bermitra dengan perusahaan sebagai katalisator, sebagai yang menstressing dan menjadi stimulator untuk berlangsungnya kegiatan ini.
Program ini dijalankan dengan bekerja sama juga dengan pemerintah daerah. Dalam peninjauan langsung di lapangan, Bupati Aulia melihat langsung bagaimana proses hilirisasi pangan lokal berjalan secara mandiri, di tingkat desa.
“Di sana tadi kita melihat bagaimana gabah bisa diolah menjadi beras, dan beras ini bisa digunakan atau dikonsumsi oleh warga masyarakat yang ada di Sungai Payang,” ungkap Bupati Aulia.
Langkah ini dinilai sangat efektif untuk memangkas rantai distribusi dan menekan biaya produksi. Diketahui selama ini dibebankan kepada konsumen atau masyarakat setempat.
“Kalau kita hitung HPP-nya, kalau seandainya mereka melaksanakan sendiri, itu harga gabah misalnya Rp6.500. Proses menggilingnya itu sekitar Rp800. Artinya ini bisa sangat efisien dan bisa lebih murah untuk didapatkan berasnya oleh warga masyarakat yang ada di sekitar,” tambahnya.
Dengan adanya efisiensi biaya operasional dari fasilitas penggilingan padi mandiri tersebut, pemerintah daerah optimistis kestabilan harga pangan di wilayah Desa Sungai Payang dapat terjaga dengan baik.
“Jadi harapan kita nantinya masyarakat bisa mendapatkan beras dengan harga tidak lebih dari Rp10.000. Dan ini sangat membantu untuk ketersediaan beras yang ada di tengah-tengah masyarakat, utamanya yang ada di bawah gunung,” jelasnya.
Kapasitas produksi terhadap potensi pertanian di wilayah Desa Sungai Payang tersebut tergolong cukup besar. Luas sawah yang ada di Sungai Payang sekitar 160 hektare di sana.
Guna mendukung keberlanjutan dan peningkatan hasil panen, para petani setempat mengharapkan adanya dukungan mekanisasi pertanian yang lebih modern dari pemerintah.
“Tadi juga disampaikan bahwa mereka masih membutuhkan beberapa alat pertanian. Dan kita berjanji untuk memenuhi peralatan-peralatan itu sehingga proses optimalisasi lahan dalam bentuk ekstensifikasi pertanian itu bisa kita laksanakan dengan baik,” tegas Bupati Aulia.
Merespons aspirasi tersebut, pemerintah daerah bergerak cepat untuk memberikan dukungan penuh. Terkait lahan yang dikelola oleh kelompok-kelompok tani di Sungai Payang masih tergolong lahan aktif semua.
Selain padi petani Desa Sungai Payang juga mengenalkan olahan yang kini dikembangkan yakni Sorgum, atau biasa disebut jelai. Komoditas ini merupakan salah satu makanan juga pengganti beras dan dia seratnya sangatlah tinggi.
Pemerintah daerah melihat potensi besar dari budidaya jelai ini untuk jangka panjang, terutama dari sisi kesejahteraan petani. “Jadi kita berharap dengan sorghum ini dikembangkan, meskipun hasilnya kalau beras itu bisa 3,5 sampai 5 ton per hektare, kalau sorgum ini cuma bisa 1 ton per hektare. Jadi kita harapan kita, tapi nilai ekonomisnya jauh lebih tinggi dari pada beras,” tambah Bupati Aulia.
Sebagai langkah awal pengembangan komoditas alternatif tersebut, pemerintah akan menggencarkan edukasi konsumsi kepada warga agar tidak lagi bergantung pada satu jenis bahan pangan pokok saja.
“Ini tinggal kita coba upayakan untuk kita sosialisasikan sehingga ini bisa menjadi bahan pengganti, bahan pengganti beras atau nasi untuk warga masyarakat,” tutupnya.
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Afi



