ANCAMAN perubahan iklim ekstrem El Nino “Godzilla” mulai membayangi Kutai Kartanegara (Kukar). Kekeringan parah yang diprediksi berlangsung April hingga Oktober 2026 berpotensi memicu gagal panen, padahal Kukar merupakan penyumbang terbesar kebutuhan beras Kalimantan Timur, mencapai 47 persen.
Di tengah kondisi itu, sejumlah upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar. Salah satunya menghadiri langsung Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bersama Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman, pada Senin (20/4/2026) lalu. Yakni membahas mitigasi kekeringan 2026.
“Kalau dari Distanak, kita mendapatkan arahan langsung dari bupati. Perintah beliau rajin-rajin ke lapangan, kita identifikasi lokasi mana saja yang potensi terdampak kekeringan,” jelas Plt Kepala Distanak Kukar, Moh Rifani, Jumat (24/4/2026).
Atas arahan tersebut, Rifani menyebut Distanak terus mengebut proses verifikasi dan validasi lahan-lahan yang terindikasi terdampak kekeringan karena El Nino Godzilla. Termasuk membuat daftar mitigasi, untuk memastikan sejumlah dukungan dan pencegahan lokasi-lokasi tersebut.
Selain itu, juga menyiapkan usulan bantuan yang diusulkan dan dibutuhkan para petani dalam menghadapi perubahan iklim ekstrem ini. Seperti infrastruktur irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, perawatan saluran tersier hingga pengadaan pompa. Selaras dengan kebijakan Kementan RI, yang siap mengucurkan anggaran untuk mengantisipasi fenomena El Nino Godzilla.
Rifani pun mengatakan bahwa usulan paling lambat diakhir April harus sudah berada di meja Kementan RI. Mengingat puncak El Nino Godzilla pada Mei-Agustus, maka dari itu Mei diharapkan sudah bisa mendapatkan kucuran bantuan.
“Beberapa hari ini kita lakukan (pendataan) dan langsung dibawah pengawasan Pak Bupati yang sangat peduli dengan kondisi ini,” lanjutnya.
Kini, Distanak Kukar pun sudah memetakan potensi ancaman kekeringan di seluruh kecamatan. Termasuk 5 kawasan pengembangan pertanian yang telah ditetapkan. Yakni di Kawasan Loa kulu-Sebulu (1.520,63 ha), Kawasan Tenggarong-Loa Kulu (1.216,71 ha), Kawasan Marangkayu (1.082,16 ha). Kemudian Kawasan Tenggarong Seberang 1 (1.650,05 ha), Kawasan Tenggarong Seberang 2 (2.166,71 ha). Dengan total keseluruhan mencapai 8.093,06 ha.
Namun berdasarkan pantauan dan identifikasi dari Distanak Kukar, wilayah Tenggarong, Tenggarong Seberang, Sebulu, Muara Kaman, Marangkayu dan Anggana yang menjadi daerah paling rawan mengalami kekeringan.
“Apakah memanfaatkan air permukaan, pompa atau irigasi perpipaan, atau pompa portable akan kita analisis sama-sama. Saat diajukan Insya Allah dapat bantuan, meski tidak 100 persen,” tutup Rifani.
Penulis/Editor : Afi



