TENGGARONG – Desa Manunggal Jaya terus berupaya mengembangkan sektor pariwisata berbasis alam, destinasi unggulan seperti Puncak HR, Kebun Belimbing, dan area sawah di RT 12. 3 lokasi ini menjadi andalan untuk menarik wisatawan, terutama dari wilayah sekitar seperti Samarinda.
Rudi Ismanto, kepala Desa Manunggal Jaya, menuturkan bahwa promosi destinasi wisata desa telah dilakukan melalui media sosial dan kerja sama dengan Universitas Mulawarman (Unmul). “Kami juga sudah bekerja sama dengan Unmul, biasanya mahasiswa mereka berkemah atau kemping di Puncak HR,” jelas Rudi Ismanto, pada Selasa (15/7/2025).
Salah satunya, Kebun Belimbing di Desa Manunggal Jaya menjadi contoh nyata, bagaimana usaha kecil berbasis pertanian bisa tumbuh menjadi destinasi agrowisata yang menarik. Bermula dari hanya tiga pohon belimbing, kini kebun tersebut telah berkembang menjadi lahan dengan 180 pohon. Menawarkan pengalaman memetik buah langsung, berkemah, serta mengenal peternakan mentok dan kolam ikan sebagai usaha sampingan.
Menurut Sugiman, pengelola Kebun Belimbing, minat masyarakat terhadap agrowisata mulai meningkat beberapa tahun lalu. “Dulu, setiap akhir pekan dan hari libur, kebun kami ramai dikunjungi keluarga, pelajar, hingga mahasiswa. Bahkan saat tahun baru, jumlah pengunjung bisa mencapai 1.300 orang dalam sehari,” ujarnya.
Namun, seiring bermunculannya destinasi wisata serupa di sekitar desa, jumlah pengunjung kini mengalami penurunan. “Sekarang, Sabtu-Minggu paling ramai sekitar 100 orang. Tapi, kami tetap optimis dan terus berinovasi,” tambah Sugiman.
Buah belimbing di kebun ini dijual seharga Rp 20 ribu per kilogram, memberi nilai tambah bagi petani dan pengelola. Selain menjual buah, Sugiman dan tim juga mulai merintis peternakan mentok dan kolam ikan sebagai usaha sampingan, memperluas daya tarik agro wisata di desa tersebut. “Kami belajar dari kecil. Dulu cuma tiga pohon, sekarang sudah berkembang. Harapannya, wisata agro seperti ini bisa terus maju dan memberi manfaat lebih luas,” ungkap Sugirman.
Rudi Ismanto pun menambahkan bahwa promosi Kebun Belimbing dilakukan melalui media sosial dan kerja sama dengan pihak lain. Seperti sekolahan, yang kerap mengadakan kegiatan kemah di kawasan wisata kebun belimbing. “Kami ingin Kebun Belimbing tidak hanya dikenal di lingkup lokal, tapi juga semakin luas,” ujar Rudi.
Kedepan, Desa Manunggal Jaya berkomitmen untuk terus mengembangkan dan mempromosikan Kebun Belimbing sebagai destinasi wisata agro unggulan, sekaligus menjadi inspirasi bagi petani dan pelaku usaha kecil lainnya di Kukar untuk berani berinovasi dan berdaya saing. (ADV)
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Muhammad Rafi’i
Adv Diskominfo Kukar (270)
Foto : Wisata Kebun Belimbing Manunggal Jaya. (Shavira Ramadhanita/RadarKukar)
Desa Manunggal Jaya Terus Kembangkan Sektor Wisata Alam Kebun Belimbing
TENGGARONG – Desa Manunggal Jaya terus berupaya mengembangkan sektor pariwisata berbasis alam, destinasi unggulan seperti Puncak HR, Kebun Belimbing, dan area sawah di RT 12. 3 lokasi ini menjadi andalan untuk menarik wisatawan, terutama dari wilayah sekitar seperti Samarinda.
Rudi Ismanto, kepala Desa Manunggal Jaya, menuturkan bahwa promosi destinasi wisata desa telah dilakukan melalui media sosial dan kerja sama dengan Universitas Mulawarman (Unmul). “Kami juga sudah bekerja sama dengan Unmul, biasanya mahasiswa mereka berkemah atau kemping di Puncak HR,” jelas Rudi Ismanto, pada Selasa (15/7/2025).
Salah satunya, Kebun Belimbing di Desa Manunggal Jaya menjadi contoh nyata, bagaimana usaha kecil berbasis pertanian bisa tumbuh menjadi destinasi agrowisata yang menarik. Bermula dari hanya tiga pohon belimbing, kini kebun tersebut telah berkembang menjadi lahan dengan 180 pohon. Menawarkan pengalaman memetik buah langsung, berkemah, serta mengenal peternakan mentok dan kolam ikan sebagai usaha sampingan.
Menurut Sugiman, pengelola Kebun Belimbing, minat masyarakat terhadap agrowisata mulai meningkat beberapa tahun lalu. “Dulu, setiap akhir pekan dan hari libur, kebun kami ramai dikunjungi keluarga, pelajar, hingga mahasiswa. Bahkan saat tahun baru, jumlah pengunjung bisa mencapai 1.300 orang dalam sehari,” ujarnya.
Namun, seiring bermunculannya destinasi wisata serupa di sekitar desa, jumlah pengunjung kini mengalami penurunan. “Sekarang, Sabtu-Minggu paling ramai sekitar 100 orang. Tapi, kami tetap optimis dan terus berinovasi,” tambah Sugiman.
Buah belimbing di kebun ini dijual seharga Rp 20 ribu per kilogram, memberi nilai tambah bagi petani dan pengelola. Selain menjual buah, Sugiman dan tim juga mulai merintis peternakan mentok dan kolam ikan sebagai usaha sampingan, memperluas daya tarik agro wisata di desa tersebut. “Kami belajar dari kecil. Dulu cuma tiga pohon, sekarang sudah berkembang. Harapannya, wisata agro seperti ini bisa terus maju dan memberi manfaat lebih luas,” ungkap Sugirman.
Rudi Ismanto pun menambahkan bahwa promosi Kebun Belimbing dilakukan melalui media sosial dan kerja sama dengan pihak lain. Seperti sekolahan, yang kerap mengadakan kegiatan kemah di kawasan wisata kebun belimbing. “Kami ingin Kebun Belimbing tidak hanya dikenal di lingkup lokal, tapi juga semakin luas,” ujar Rudi.
Kedepan, Desa Manunggal Jaya berkomitmen untuk terus mengembangkan dan mempromosikan Kebun Belimbing sebagai destinasi wisata agro unggulan, sekaligus menjadi inspirasi bagi petani dan pelaku usaha kecil lainnya di Kukar untuk berani berinovasi dan berdaya saing. (ADV)
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Muhammad Rafi’i



