TENGGARONG – Kehadiran beras lokal asal Kutai Kartanegara (Kukar) kini mulai menjadi beras primadona bagi masyarakat. Salah satunya beras produksi petani lokal Desa Sidomukti, Kecamatan Muara Kaman. Bahkan kini menjadi komoditas unggulan di Pasar Mangkurawang.
Supriono, salah satu pedagang sembako di Pasar Mangkurawang, mengungkapkan bahwa beras asal Muara Kaman ini memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan beras lokal lainnya yang beredar di pasar. Hal yang paling menonjol adalah masalah legalitas dan kemasannya.
“Untuk kemasannya sih bagus, sudah ada izinnya juga, itu normal. Kalau yang beras-beras lokal yang ada di sini kan kebanyakan tidak ada izinnya, kalau kita sudah punya izinnya,” ungkap Supriono, pada Jumat (6/2/2026).
Mengenai harga, Supriono mematok harga yang cukup stabil diangka Rp14 ribu per kilogram. Dengan berbagai kemasan, mulai dari ukuran 5 kg dengan harga Rp70 ribu, dan ukuran 10 kg seharga Rp140 ribu.
Alur distribusi beras ini pun terjaga kualitasnya, di mana Supriono mengambil pasokan langsung dari penggilingan yang menampung hasil panen petani lokal Desa Sidomukti.
Meski kini laris manis, Supriono mengaku perjalanan memasarkan beras lokal ini tidaklah instan. Ia sempat melewati masa sulit di awal perintisan saat memperkenalkan produk tersebut kepada pelanggan.
“Banyak kalau untuk sekarang peminatnya, karena orang sudah mulai tahu. Kalau kemarin kita merintisnya susah banget, kalau sekarang sudah mulai bagus, Insya Allah bagus,” ujarnya.
Tingginya minat masyarakat dibuktikan dengan perputaran stok yang cepat. Dalam satu bulan, Supriono mampu menjual rata-rata 50-100 karung beras. Fokusnya saat ini mengutamakan penjualan beras lokal tersebut, karena kualitasnya yang sudah teruji dan sudah tertera oleh dinas.
Penulis: Shavira Ramadhanita



