SENDAWAR – Banjir yang melanda Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Sedikitnya 339 jiwa dari tujuh kampung terdampak setelah luapan sungai merendam permukiman, jalan penghubung hingga fasilitas umum.
Data pemerintah kecamatan mencatat sebanyak 97 rumah warga terendam dengan total 117 kepala keluarga terdampak. Kondisi tersebut juga turut memengaruhi kelompok rentan, terdiri dari 12 balita dan 58 lanjut usia (lansia).
Dari tujuh kampung yang terdampak, Kampung Muara Beloan menjadi wilayah dengan kondisi paling serius. Tinggi muka air di kawasan itu mencapai 50 hingga 90 sentimeter dan merendam rumah warga, akses jalan, jembatan, hingga area pelabuhan kampung.
Sementara kampung lain mengalami genangan dengan intensitas lebih rendah. Di Kampung Tanjung Laong, air berkisar 2–10 sentimeter, Tanjung Pagar 5–15 sentimeter, sedangkan Teluk Tempudau, Muara Baroh, dan Sebelang berada di kisaran 1–5 sentimeter.
Camat Muara Pahu, Mauliddin Said, mengatakan banjir menyebabkan terganggunya mobilitas masyarakat lantaran sejumlah ruas jalan semenisasi serta jembatan antarwilayah ikut terendam.
“Jalan di dalam kampung maupun akses penghubung antar kampung sebagian besar terdampak, sehingga aktivitas warga cukup terganggu,” ujarnya.
Tak hanya membatasi akses warga, banjir juga mulai memengaruhi distribusi logistik, terutama kebutuhan pokok menuju sejumlah kampung terdampak. Kondisi itu menyebabkan harga bahan pangan di beberapa wilayah mengalami perubahan.
Menurut Mauliddin, fluktuasi harga paling terasa terjadi di Muara Beloan karena akses distribusi masih belum sepenuhnya normal.
Mengantisipasi dampak lanjutan, pemerintah kecamatan bersama unsur Muspika dan aparat kampung telah berkoordinasi dengan tenaga kesehatan untuk melakukan pendataan dan pelayanan langsung kepada warga.
Tim kesehatan dari UPT Puskesmas turut melakukan pemeriksaan lapangan dengan metode jemput bola guna mengantisipasi potensi penyakit pascabanjir.
“Hasil sementara, keluhan warga didominasi demam, batuk pilek, dan gangguan kulit akibat lingkungan yang lembap,” jelasnya.
Saat ini pemerintah fokus pada penyaluran bantuan bagi warga terdampak sekaligus mempercepat pemulihan akses jalan dan jembatan agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. (RK)



