Paskas Kapal Munzalan Loa Kulu Bangun Apartemen Santri Penghafal Al-Qur’an

TENGGARONG – Memasuki tahun keempat dalam perjalanannya, Paskas Kapal Munzalan di Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, terus konsisten menjalankan misi sosial dan religius. Hal ini disampaikan langsung oleh Pimpinan Paskas Kapal Munzalan, Wahyudi, pada Sabtu (14/3/2026).

Wahyudi menjelaskan bahwa fokus utama lembaga ini adalah mengajak masyarakat, khususnya anak muda, untuk kembali ke masjid. Salah satu melalui kegiatan “Lomba Kampung Ramadhan” yang meliputi lomba taktil, tilawah, tahfiz, azan, kaligrafi, hingga olahraga seperti badminton dan tenis meja.

“Setelah mereka datang ke masjid melalui kegiatan-kegiatan, baru kita mengajak untuk belajar Al-Qur’an. Setelah belajar Al-Qur’an, barulah kita ajarkan untuk mereka menebar kebaikan,” ungkap Wahyudi.

Nama “Kapal Munzalan” sendiri diambil dari inspirasi kisah Nabi Nuh AS dan penggalan ayat Munzalan Mubarak, yang berarti tempat yang diberkahi. Ia bermimpi membangun sebuah “Kampung Berkah”, yakni lingkungan di mana warganya taat kepada Allah dengan pusat kegiatan di masjid.

lokasi tersebut dulunya merupakan kawasan hutan yang kini telah berkembang pesat. Dalam dua tahun terakhir, pembangunan fisik terus digenjot untuk mendukung fasilitas pendidikan dan ekonomi umat.

Paskas Kapal Munzalan kini memiliki ekosistem yang mandiri melalui Badan Usaha Milik Masjid (BUMM). Dalam sektor ekonomi Munzalan seperti Store, Munzalan Mart, unit katering, laundry, hingga barbershop. Dalam kesehatan dan media seperti rumah sehat Munzalan (pelayanan kesehatan gratis) dan Munzalan Studio untuk rekaman serta podcast.

Dan untuk pendidikan seperti program TPA dengan lebih dari 100 santri dan persiapan pembukaan Pondok Pesantren Munzalan Sinar Qur’an Kukar pada bulan Mei mendatang. Salah satu inovasi yang sedang berjalan adalah pembangunan gedung empat lantai yang dinamakan “Apartemen Santri Penghafal Quran”.

“Santri-santri yang dibina di sini berasal dari berbagai daerah seperti Palangkaraya, Sebulu, Kota Bangun, hingga Tenggarong,” tambah Wahyudi.

Tak hanya itu, Masjid Kapal Munzalan ini memiliki taman permainan anak mengusung konsep Romantis. Merupakan dari Ramah Anak Muda, Ramah Anak-anak, Ramah Tetangga, Ramah Musafir, dan Ramah Disabilitas.

Terkait pendanaan, Wahyudi menegaskan bahwa sistemnya berbasis dari warga untuk warga untuk zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Hal ini memungkinkan program pendidikan di sana berjalan tanpa biaya, bagi yang membutuhkan.

Ia pun berharap pemerintah dapat memberikan perhatian penuh terhadap lembaga-lembaga yang memiliki visi serupa dalam menciptakan generasi penghafal Al-Qur’an di masa depan.

“Khusus untuk yatim dan yang kurang mampu, semuanya gratis. Motivasinya bermula ketika ada tetangga yang mengeluh tidak mampu membayar biaya belajar Al-Qur’an anaknya. Dari situ saya bermimpi membangun lembaga yang gratis. Lahan ini awalnya milik pribadi, lalu saya wakafkan untuk dikelola umat,” tutup Wahyudi.

Penulis: Shavira Ramadhanita
Editor : Afi

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.