KALTIM – Kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, mulai memunculkan efek domino di Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Jika sebelumnya lonjakan tarif hanya dianggap persoalan mobilitas penumpang, kini dampaknya mulai terasa pada sektor distribusi barang, pola perjalanan masyarakat, hingga penurunan trafik penumpang di bandara.
Meski pemerintah memastikan belum ada pelanggaran tarif oleh maskapai, mahalnya ongkos penerbangan dinilai mulai mengubah perilaku konsumen sekaligus menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi daerah.
Di Kukar, distribusi bahan pokok memang masih relatif aman, karena mayoritas pasokan masuk melalui jalur laut. Namun sejumlah komoditas tertentu yang membutuhkan pengiriman cepat mulai menunjukkan kerentanan akibat tingginya ongkos logistik udara.
Sementara di Balikpapan, jumlah penumpang di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, justru mengalami penurunan seiring berkurangnya rute dan frekuensi penerbangan.
Apakah mahalnya tiket pesawat mulai menjadi ancaman serius?
Distribusi Bahan Pokok Kukar Masih Aman, Tapi Tidak Sepenuhnya Kebal
Kepala Bidang Pemasaran Produk Dalam Negeri dan Pengendalian Barang Pokok Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Muhammad Bustani, menilai dampak kenaikan harga tiket terhadap kebutuhan pokok sejauh ini belum terlalu signifikan. Hal itu karena sebagian besar kebutuhan pangan Kukar masih didistribusikan melalui kapal laut, bukan pesawat.
“Kalau kebutuhan pokok kebanyakan lewat kapal, jadi pengaruh tiket pesawat belum terlalu terasa,” ujarnya.
Namun kondisi berbeda berlaku untuk komoditas tertentu yang membutuhkan pasokan cepat. Salah satu contoh paling nyata terjadi pada cabai rawit saat menjelang Lebaran lalu.
Keterbatasan stok memaksa distribusi dilakukan melalui jalur udara, menyebabkan harga melonjak drastis hingga mencapai Rp200 ribu per kilogram.
“Kalau mendesak biasanya pakai pesawat supaya cepat sampai. Kemarin cabai rawit kecil sempat Rp200 ribu,” jelas Bustani.
Selain cabai, tekanan ongkos distribusi turut mempengaruhi harga minyak goreng kemasan. Menurutnya, faktor kenaikan tidak hanya dipicu logistik, tetapi juga biaya bahan baku seperti plastik kemasan.
Meski demikian, Disperindag Kukar menyebut sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sejauh ini masih relatif aman. Belum ada laporan serius terkait lonjakan biaya pengiriman maupun kendala distribusi produk lokal ke luar daerah.
“Belum ada keluhan besar dari UMKM soal biaya kirim,” katanya.
Agen Travel Mengeluh, Masyarakat Mulai Pilih Liburan ke Luar Negeri
Jika sektor pangan belum terlalu terguncang, dunia perjalanan justru menjadi pihak yang paling awal merasakan dampaknya.
Muhammad Iqbal dari Redho Tours & Travel Tenggarong, mengatakan bahwa harga tiket penerbangan domestik maupun internasional mengalami kenaikan signifikan, berkisar 20 hingga 30 persen sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut memaksa pelaku usaha menyesuaikan harga paket perjalanan, termasuk wisata dan umrah.
“Biasanya kami bisa jual paket lebih murah, tapi sekarang tiket naik cukup tinggi, domestik juga ikut naik,” ujarnya.
Ia mencontohkan harga tiket rute Balikpapan–Jakarta yang sebelumnya berada di bawah Rp2 juta kini sudah berada di kisaran Rp2,2 juta per penumpang.
Dampaknya mulai terlihat dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Menurut Iqbal, banyak pelanggan kini lebih tertarik bepergian ke luar negeri seperti Singapura atau Malaysia karena justru dianggap lebih murah dibanding destinasi domestik.
“Kadang tiket ke Singapura atau Malaysia malah lebih murah daripada ke Jakarta atau Bali,” katanya. Fenomena ini dinilai menjadi ironi di tengah upaya pemerintah mendorong wisata domestik.
Penumpang Bandara Sepinggan Turun, Rute Penerbangan Berkurang
Di sisi lain, dampak kenaikan biaya penerbangan juga tercermin dari kondisi di Bandara Internasional SAMS Sepinggan Balikpapan.
Pihak bandara mengakui terjadi penurunan trafik penumpang dalam beberapa waktu terakhir. Namun, General Manager Bandara SAMS Sepinggan, R Iwan Winaya Mahdar, menyebut kondisi itu belum bisa sepenuhnya dikaitkan dengan mahalnya tiket pesawat.
Menurutnya, faktor utama justru berasal dari berkurangnya rute dan frekuensi penerbangan dari maupun menuju Balikpapan. “Memang ada penurunan jumlah penumpang, tapi kami belum bisa memastikan karena harga tiket. Saat ini memang ada pengurangan rute penerbangan dari dan ke Balikpapan,” ujarnya.
Iwan menjelaskan, trafik penumpang saat ini cenderung lebih landai dibanding tahun lalu. Beberapa maskapai diketahui memangkas jadwal maupun rute penerbangan. Ia juga menegaskan tarif penerbangan bukan dipengaruhi biaya operasional bandara, melainkan penyesuaian biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge.
Otban: Tidak Ada Pelanggaran Tarif, Harga Naik karena Avtur
Sementara itu, Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII Balikpapan memastikan kenaikan harga tiket pesawat saat ini masih sesuai regulasi pemerintah.
Kepala Otban Wilayah VII Balikpapan, Ferdinan Nurdin, menegaskan belum ditemukan pelanggaran tarif oleh maskapai penerbangan.
Menurutnya, lonjakan harga terjadi akibat kenaikan harga avtur global yang mendorong penerapan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar.
Tarif penerbangan kelas ekonomi, kata dia, tetap mengacu pada Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB) yang ditetapkan pemerintah. “Persepsi mahal itu kebanyakan muncul karena pembelian tiket transit atau layanan non-ekonomi, bukan karena maskapai melanggar tarif,” ujarnya.
Kenaikan harga mulai terasa sejak April hingga Mei 2026 setelah terbitnya Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 1041 Tahun 2026 mengenai besaran biaya tambahan akibat fluktuasi bahan bakar penerbangan.
Akibat kebijakan tersebut, harga tiket rute Balikpapan–Jakarta yang sebelumnya berada di kisaran Rp1 juta–Rp1,2 juta kini melonjak hingga sekitar Rp1,8 juta per penumpang.
Otban memastikan pengawasan terhadap tarif maskapai terus dilakukan. Pemerintah pusat juga disebut telah menyiapkan stimulus berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) guna membantu menjaga keterjangkauan tiket domestik.
Ancaman Serius atau Hanya Gejolak Sementara?
Bagi Kukar, mahalnya tiket pesawat memang belum sampai mengganggu rantai pasok kebutuhan pokok secara luas. Jalur laut masih menjadi tulang punggung distribusi barang.
Namun kondisi ini tetap menyisakan risiko, terutama bagi komoditas cepat rusak, sektor pariwisata, hingga pelaku usaha yang bergantung pada mobilitas udara.
Di saat masyarakat mulai mencari opsi perjalanan yang lebih murah, agen travel menghadapi ancaman penurunan pelanggan, sementara bandara menghadapi trafik penumpang yang melandai.
Jika tren ini terus berlanjut tanpa intervensi berarti, mahalnya tiket pesawat bukan tidak mungkin berkembang menjadi tantangan ekonomi baru di Kalimantan Timur—terutama bagi wilayah yang masih sangat bergantung pada konektivitas udara.
Penulis : Ady Wahyudi, Shavira Ramadhanita, Aprianto
Editor: Afi



