Tetapkan Kawasan Industri, Upaya Pemkab Kukar Gaet Pelaku Usaha Industri Pabrikan

Tenggarong – Dalam rangka mempersiapkan penataan wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) untuk menyongsong kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar akhirnya telah menetapkan kawasan peruntukan industri di Kukar.

Sekertaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Sayid Fathullah menjelaskan bahwa, sebelumnya Kukar telah menetapkan 19 kawasan industri. Namun dengan masuknya 2 kecamatan baru, yaitu Kecamatan Samboja dan Samboja Barat menjadi bagian dari IKN, mengharuskan pemkab melakukan perubahan pada penetapan wilayah perindustrian tersebut. Hingga akhirnya tinggal menyisakan 12 kawasan.

12 kawasan perindustrian ini tersebar di Kecamatan Kota Bangun, Loa Janan, Loa Kulu, Marangkayu, Muara Badak, Muara Jawa, Muara Kaman, Sangasanga, Sebulu, Tenggarong, Tenggarong Seberang, dan Kembang Janggut.

“Marangkayu yang paling luas, ada sekitar 2.658.092.876 hektare lahan yang kita tetapkan sebagai kawasan peruntukan industri,” kata Sayid.

Dengan penetapan kawasan penetapan industri ini, tentunya akan memberikan kepastian pengelolaan kawasan. Sehingga dapat dikelola dengan baik. Mengingat perpindahan IKN berpotensi besar membawa banyak industri pabrikan. Semacam hilirisasi produk-produk seperti tekstil, pabrik makanan kemasan dan produk lainnya.

“Jadi pemerintah telah mempersiapkan dengan menetapkan kawasannya, mana yang boleh menjadi wilayah industri dan mana yang tidak boleh,” tambahnya.

Dengan perpindahan IKN yang diiringi dengan perpindahan penduduk ke Kalimantan Timur (Kaltim). Pemkab Kukar berkeinginan untuk menggaet serta para pelaku industri untuk bermitra dengan Pemkab Kukar.

Mengingat Kukar sendiri memiliki banyak potensi Sumber Daya Alam (SDA), yang selama ini tidak mampu dikelola hingga sektor hilirnya. Dengan kata lain juga menyediakan pasar bagi para pelaku usaha, yang selama ini berkutat dengan masalah hilirisasi dalam berbagai sektor.

“Jadi kalau ada hilirisasi industrinya disini masyarakat bisa menjadi pemasok bahan baku, sekaligus juga sebagai konsumen. Tentunya dengan harga yang lebih ekonomis, karena kan kalo pabriknya ada disini biaya transportasinya tidak besar,” pungkasnya. (adv/tabs)