RAMADAN di Kutai Kartanegara (Kukar) tak hanya hadir lewat azan dan jadwal imsakiyah. Ia hidup dalam cahaya lilin di depan pintu rumah, dentuman meriam kayu di tepian Sungai Mahakam, hingga ribuan lampu swadaya yang menerangi gang permukiman. Tiga tradisi ini menjadi potret bagaimana masyarakat menjaga makna bulan suci melalui simbol, suara, dan cahaya kebersamaan.
Lilin dan Sirih di Ambang Pintu
Di kampung-kampung tua Kutai, senja terakhir sebelum Ramadan memiliki makna tersendiri. Warga meletakkan lilin, beras, pinang, gambir, kapur sirih, dan daun sirih di depan pintu rumah. Prosesi dilakukan tepat saat magrib terakhir sebelum puasa dimulai.
Penggiat budaya Kutai, Awang M Rifani, menegaskan tradisi ini bukan sekadar simbol. “Ini bukan hanya simbol adat, tetapi pengingat bahwa sebelum memasuki Ramadhan, hati harus dibersihkan dan diterangi,” ujarnya.
Lilin dimaknai sebagai nur atau cahaya petunjuk hidup. Beras melambangkan rezeki dan rasa syukur. Pinang menjadi simbol keteguhan niat, sementara gambir menggambarkan kemampuan menahan “rasa pahit” kehidupan. Kapur sirih melambangkan perekat hubungan sosial, dan daun sirih menjadi simbol kesucian.
Peletakan perlengkapan di depan pintu mengandung makna simbolik sebagai batas antara dunia luar dan ruang batin. “Maknanya kita menolak hal buruk masuk ke rumah, sekaligus mengundang keberkahan dan ketenangan,” jelas Rifani.
“Ramadhan itu momentum membersihkan hati. Rumah dan jiwa harus sama-sama diterangi,” tutup Rifani.
Kini, tradisi ini mulai jarang dijumpai. Namun di sebagian kampung tua, cahaya kecil di depan pintu itu tetap menjadi penanda sunyi datangnya bulan suci.
Dentuman Leduman dari Desa Jantur
Berbeda dengan heningnya lilin di pintu, warga Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai, menyambut magrib Ramadan dengan dentuman keras dari meriam kayu raksasa yang dikenal sebagai Leduman atau Laduman.

Tradisi ini telah berlangsung lebih dari setengah abad dan menggema di sepanjang aliran Sungai Mahakam. “Budaya ini sudah lebih 50 tahun. Dulu desa terpencil, tidak ada radio, tidak ada jam. Orang sering ketinggalan waktu berbuka,” tutur Muhriadi, tokoh agama setempat.
“Dulu itu karena Jantur itu jauh, dari kecamatan saja sangat jauh. Jadi karena semua melaksanakan ibadah puasa, waktu itu banyak kendala untuk mengetahui masuknya waktu berbuka. Maka masyarakat bermusyawarah membuat Laduman,” ungkap Muhriadi.
Meriam dibuat dari batang nangka air berdiameter besar dan panjang hingga 6–8 meter. Kayu dibelah, dikeruk membentuk rongga, lalu disatukan kembali dan diperkuat besi. Tahun ini, jumlahnya menjadi tiga.
“Tahun ini tiga Leduman, kalo bisanya dua ini tiga. Karena ternyata pas dicoba Leduman dari tahun lalu masih bisa dipakai,” sebutnya.
“Makanya dibuat dua arah. Supaya semua dengar,” ujar Muhriadi.
Dentuman Leduman tak sekadar penanda berbuka. Ia menjadi simbol gotong royong warga yang mengumpulkan iuran hingga puluhan juta rupiah demi menjaga tradisi. Meski bahan baku kini semakin sulit ditemukan, masyarakat tetap mempertahankannya sebagai identitas tepian Mahakam.
Kampung 1000 Lampu di Jalan Ruwan
Sementara itu di Jalan Ruwan, Tenggarong, Ramadan hadir dalam wujud berbeda. Sekitar 1.000 lampu menghiasi sepanjang jalan di RT 3, membentuk lorong cahaya yang memikat setiap senja.
Ketua RT 3, Faidil Fasha, menyebut inisiatif ini lahir dari keinginan sederhana warga. “Awalnya kami hanya ingin suasana Ramadan di kampung terasa lebih hidup,” ujar Faidil.

Dekorasi dibuat swadaya. Botol bekas, wadah makanan, hingga piring plastik disulap menjadi ornamen. Warga RT 2 dan RT 3 bergotong royong sejak tahap desain hingga pemasangan.
“Hampir semua memanfaatkan barang yang ada. Hanya lampu dan kabel yang dibeli baru,” jelas Faidil.
Tradisi yang kini memasuki tahun keenam ini sepenuhnya dibiayai iuran warga. Lampu-lampu itu akan tetap menyala hingga tujuh hari setelah Idulfitri sebelum dibongkar bersama.
Cahaya yang Dirawat Bersama
Dari lilin kecil di depan pintu, dentuman meriam kayu di tepian sungai, hingga ribuan lampu di gang permukiman, Ramadan di Kutai Kartanegara menunjukkan wajah yang beragam namun bermuara pada makna yang sama: membersihkan hati dan merawat kebersamaan.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat masih menjaga tradisi sebagai pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum memperkuat iman, solidaritas, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. (*)
Penulis : Tim Redaksi Radar Kukar



