Bangunan itu berdiri sunyi di sudut kota. Catnya masih tampak bersih dan terang, namun sebagian kaca jendela pecah menganga. Di dalam, ruangan kotor tak terurus, sementara rumput liar tumbuh tak terkendali, perlahan mengambil alih area yang dulu rapi.
BEGITULAH kesan pertama saat memasuki kawasan Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia di Tenggarong. Sudah sekitar lima tahun bangunan ini berdiri megah di Jalan Anggana, RT 15, Kelurahan Panji. Dahulu, kawasan ini digadang-gadang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan. Namun kini, harapan itu seakan memudar—terkubur oleh rindangnya rumput liar yang menutupi sebagian area.
Di beberapa sudut, pemandangan kian memprihatinkan. Tumpukan sampah botol hingga plastik bekas makanan ringan berserakan, menambah kesan terbengkalai. Yang tersisa hanyalah sunyi, dan jejak ambisi yang belum sempat benar-benar terwujud.
Total ada 8 replika bangunan yang dibangun. Mulai dari Kedaton Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martapura, Candi Tikus Kerajaan Majapahit hingga Candi Mahligai. Kemudiam miniatur Kerajaan Sriwijaya, Istana Kerajaan Tanjung Palas, dan Istana Gunung Tabur. Termasuk di dalamnya ada miniatur Menara Eiffel dan Menara Pisa.
Mirisnya, belum lagi dioperasionalkan, beberapa bangunan rusak parah. Pintu pagar pembatas yang rusak, rumput-rumput liar tumbuh, catnya yang mulai kusam dan perlahan berlumur. Bahkan ada miniaturnya rusak total nyaris hilang. Entah bangunan miniatur jenis apa yang rusak tersebut, lantaran tersisa pondasinya saja. Akibat perawatan yang tidak sama sekali, atau mungkin tidak pernah dilakukan. Padahal, pembangunan kawasan yang dikerjakan sejak 2015 tersebut menelan anggaran yang tidak main-main. Mencapai Rp23 miliar lebih.

Fasilitas penunjang di kawasan 3 hektare itu pun tak kalah memprihatinkan. Gazebo hingga tempat duduk bersantai tak luput dari kerusakan. Gazebo tampak kotor. Sementara bangunan tempat duduk bersantai kini tinggal rangka. Alas papan tempat duduk dan meja tinggal rangka. Disinyalir menjadi korban pencurian orang yang tidak bertanggung jawab.
Bangunan toilet pun tidak luput dari sasaran “si tangan panjang”. Total 3 unit toilet duduk yang dibangun, 2 unit diantaranya digondol maling. Begitupun kabel listrik untuk lampu yang ikut dicuri. Semakin memperparah kondisi bangunan yang menyatu dengan Museum Kayu dan Waduk Panji Sukarame tersebut.
Dikonfirmasi kepada Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kukar, Sunggono, langkah konkret belum bisa diambil. Mengingat bangunan yang dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) tersebut kini masuk evaluasi. Untuk melihat sejauh mana kerusakan dan layak atau tidaknya destinasi wisata tersebut dapat dioperasionalkan sesuai rencana awal.
“Semua harus dipastikan dulu. Mulai dari status asetnya, kondisinya, sampai kemungkinan pemanfaatannya kembali,” jelas Sunggono.

Nantinya hasil identifikasi dan evaluasi, akan menjadi dasar pemerintah kabupaten untuk mengambil langkah selanjutnya. Seperti pembersihan, pengamanan, hingga penentuan skema pengelolaan. Memastikan bangunan tersebut dapat beroperasi dengan layak.
“Kalau memang perlu dikelola, berarti kita siapkan skema pengelolaannya,” lanjutnya.
Berharap Dikelola RT
Keprihatinan akan kondisi Taman Replika Kerajaan Nusantara dan Monumen Dunia, pun disampaikan Ketua RT 15 Kelurahan Panji, Kusman. Bahkan ia sempat mengusulkan dapat dikelola oleh 19 RT di Kelurahan Panji, agar kawasan tersebut bisa terawat dan segera hidup.
Ia menilai, jika tidak segera ada pengelolaan yang jelas, kondisi kawasan akan semakin memprihatinkan. Bahkan, berbagai fasilitas yang sebelumnya ada kini satu per satu dilaporkan hilang.
“Sudah banyak yang hilang, seperti tandon air, kayu ulin gazebo, kabel-kabel, sampai kloset duduk juga hilang dua unit. Kalau tidak dikelola, ya lama-lama habis semua,” katanya.
Menurutnya, konsep pengelolaan berbasis masyarakat bisa menjadi solusi. Warga setempat, jelas Kusman, siap dilibatkan untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut. Seperti para pelaku UMKM bisa berjualan di sana. Kemudian melibatkan para pemuda-pemudi untuk mengatur parkir hingga menjaga tiket.
Ia meyakini, jika pengelolaan diberikan kepada masyarakat setempat, kawasan tersebut berpeluang kembali hidup dan terawat.
“Jadi semua punya peran. Dari pemerintah mungkin bisa bantu bangun gazebo, nanti pelaku UMKM bisa menyewa,” lanjutnya.
Selain itu, kawasan yang terbengkalai tersebut sempat disalahgunakan oleh sejumlah oknum. Ia menyebut, lokasi itu pernah menjadi tempat berkumpul untuk mengonsumsi minuman keras, bahkan didatangi pelajar yang bolos sekolah.
“Kalau seperti itu, Insya Allah bisa terjaga dan tidak terbengkalai lagi,” pungkasnya.
Penulis : Tim Redaksi Radar Kukar



