Pangkas Jarak Hingga 100 Km, Pemkab Kukar Berencana Garap Jalan Pintas ke Kubar

TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mengawal rencana pembangunan jalur pendek atau jalan potong, yang menghubungkan wilayah Kukar dengan Kutai Barat (Kubar).

Proyek tersebut diprediksi mampu memangkas jarak tempuh hingga 100 kilometer, atau setara dengan penghematan waktu perjalanan selama tiga jam.

Bupati Kukar, dr Aulia Rahman Basri, menyatakan bahwa koordinasi telah dilakukan, terutama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim). Menurutnya, keterlibatan provinsi sangat krusial, mengingat jalur ini melintasi batas dua kabupaten.

“Kalau yang jalan Kukar-Kubar itu memang dulu kita pernah melakukan proses koordinasi. Tapi kemarin kami lebih tepatnya melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi. Kami sudah berdiskusi dengan Pak Gubernur,” ungkap Bupati dr Aulia.

Jalur potong tersebut direncanakan akan melintasi daerah Lamin Kulut hingga Lamin Telihan. Karena statusnya yang menghubungkan dua wilayah, dr Aulia berharap pemprov mengambil peran besar dalam realisasinya.

“Ketika ini melintasi dua kabupaten kota, kita berharap provinsi mengambil peran besar bersama-sama dengan Pemkab Kukar, sehingga ini bisa terwujud dan bisa kita realisasi,” tambahnya.

Selain itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar, Wiyono, menjelaskan bahwa secara teknis, komunikasi dengan pihak Pemkab Kubar juga telah berjalan. Bahkan, anggota legislatif dari Kubar telah berkoordinasi langsung ke Dinas PU Kukar.

“Beberapa waktu yang lalu kan ada anggota DPRD Kubar ke PU untuk koordinasi terkait dengan hal itu. Sudah ada diskusi termasuk juga terkait dengan ruas dan trase-trasenya itu sudah kita komunikasikan dengan pemerintah Kubar untuk berkolaborasi,” jelas Wiyono.

Ia menegaskan bahwa saat ini rencana tersebut sudah diketahui oleh semua pihak terkait, baik ditingkat kabupaten maupun provinsi. Wiyono menekankan bahwa pembangunan jalan ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur biasa, melainkan upaya efisiensi besar-besaran bagi masyarakat. Jalur lama yang ada saat ini dirasa terlalu jauh dan memakan biaya operasional tinggi.

“Dengan adanya itu kan yang bisa kita pangkas sekitar seratusan kilo. Nah, seratus kilo itu kan sekitar tiga jam. Kalau kemudian kita berbicara tentang BBM sudah berapa, termasuk juga waktunya. Jadi memang ada efisiensi yang bisa dilakukan di situ,” tutup Wiyono.

Penulis: Shavira Ramadhanita

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.