TENGGARONG – Sektor perkebunan rakyat di Kutai Kartanegara (Kukar) kini tengah menghadapi dilema. Meski jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) dilaporkan mengalami penurunan, terutama di subsektor lada, namun produksi secara keseluruhan
ada peningkatan.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kukar, Muhammad Taufik, mengatakan bahwa adanya pergeseran dan penurunan jumlah petani ini, sangat terasa pada komoditas lada yang secara historisnya merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja.
Taufik menjelaskan bahwa salah satu faktor utama berkurangnya jumlah petani, adanya menyempitnya luas lahan perkebunan. Alih fungsi lahan menjadi alasan kuat di balik berkurangnya area tanam.
“Nah sekarang lada di Loa Janan dan di Muara Badak kan ada penurunan luas ini karena ada alih fungsi juga, sehingga terjadi penurunan rumah tangga petani,” ungkap Taufik.
Lada sendiri dikenal sebagai komoditas yang padat petani, yang mana membutuhkan banyak tangan dalam pengelolaannya. Ketika lahan beralih fungsi menjadi peruntukan lain, otomatis jumlah rumah tangga yang bergantung pada sektor tersebut mengalami pengurangan.
Meski jumlah petani berkurang, Taufik menunjukkan bahwa efektivitas perkebunan di lapangan tetap terjaga, bahkan meningkat.
“Rumah tangga petani memang ada perkurangan, tapi dari sisi produksi secara keseluruhan itu ada peningkatan,” tegasnya.
Peningkatan produksi di tengah berkurangnya jumlah petani ini mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas lahan yang tersisa. Hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk terus mengawal meskipun luas lahan berkurang, hasil panen meningkat.
Penulis: Shavira Ramadhanita



