IESR Soroti Robohnya 12 Tower Listrik di Sumut, Minta Audit Total Jaringan Transmisi

JAKARTA – Runtuhnya 12 tower transmisi listrik di Sumatera Utara yang memicu pemadaman bergilir di wilayah Medan dan sekitarnya, mendapat sorotan serius dari Institute for Essential Services Reform (IESR). Lembaga tersebut menilai insiden ini menjadi peringatan keras, atas lemahnya ketahanan infrastruktur kelistrikan nasional menghadapi cuaca ekstrem.

Peristiwa ambruknya belasan tower transmisi dinilai tidak bisa semata-mata disebabkan faktor cuaca buruk. IESR mendesak pemerintah bersama regulator ketenagalistrikan segera melakukan evaluasi menyeluruh, terhadap standar desain hingga pemeliharaan jaringan transmisi nasional.

Kerusakan pun terjadi pada dua jalur utama penyaluran listrik di Sumatera Utara. Pada jaringan SUTET 275 kV Galang–Simangkuk, tiga tower dilaporkan roboh dan dua lainnya mengalami deformasi. Sementara di jalur SUTT 150 kV Tebing Tinggi–Sei Rotan, enam tower ambruk dan satu tower lainnya mengalami kerusakan struktur.

Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar. Terlebih sebagian infrastruktur yang terdampak tergolong baru dan menjadi bagian proyek strategis Tol Listrik Sumatera yang mulai beroperasi pada 2019.

Menurutnya, cuaca ekstrem memang dapat menjadi pemicu awal gangguan, namun bukan satu-satunya alasan yang dapat menjelaskan kerusakan berskala besar pada jaringan transmisi.

“Tower transmisi pada dasarnya dirancang menghadapi hujan lebat, petir, hingga angin kencang yang umum terjadi di Indonesia. Karena itu, perlu ditelusuri mengapa infrastruktur yang relatif baru bisa mengalami kerusakan beruntun,” ujar Fabby dalam keterangannya, Sabtu (7/6/2026).

IESR menilai investigasi harus dilakukan secara independen dan menyeluruh guna mengungkap akar persoalan. Pemeriksaan tidak hanya berhenti pada penyebab teknis di lapangan, tetapi juga perlu menyasar aspek desain, kualitas material, metode konstruksi hingga pola pemeliharaan jaringan.

IESR juga meminta Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, untuk segera melakukan audit teknis terhadap jalur transmisi terdampak. Termasuk menguji apakah terdapat kelemahan desain maupun standar ketahanan infrastruktur terhadap risiko perubahan iklim.

IESR menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem transmisi nasional, mengingat Indonesia tengah menargetkan integrasi energi terbarukan dalam skala besar beberapa tahun mendatang. Tanpa jaringan listrik yang tangguh, percepatan transisi energi dinilai berpotensi menghadapi hambatan serius.

Sebagai langkah tindak lanjut, IESR mendorong pembentukan tim investigasi independen, audit nasional ketahanan jaringan transmisi, serta penyusunan strategi nasional penguatan ketahanan sistem kelistrikan terhadap dampak perubahan iklim. (Rls)

Editor : Afi

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.