TENGGARONG – Langkah pelestarian budaya daerah kembali mendapat ruang di tingkat nasional. Siswa asal Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Pragata Wistara Gafila atau Gata, mendapat kesempatan tampil membawa seni musik tradisional Kutai dalam ajang Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 di Jakarta setelah sukses menjadi yang terbaik di tingkat daerah hingga provinsi.
Murid SD Muhammadiyah Tenggarong tersebut dipercaya mewakili Kalimantan Timur (Kaltim) pada kategori lagu daerah Tingkilan. Kesempatan itu diraih usai melewati tahapan seleksi panjang, mulai dari juara tingkat Kukar hingga keluar sebagai terbaik di level provinsi.
Orang tua Gata, Nofand Surya Gafila, mengatakan keikutsertaan putranya di tingkat nasional menjadi pengalaman berharga sekaligus kebanggaan tersendiri bagi keluarga dan daerah.
“Prosesnya dari juara Kukar, kemudian lanjut juara di tingkat Kalimantan Timur, sampai akhirnya mewakili Kaltim di nasional,” ujarnya, Senin (26/5/2026).
Kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional berlangsung pada 22 hingga 26 Mei 2026 di Jakarta, tepatnya di pusat pengembangan sumber daya manusia kementerian pendidikan. Agenda ini mempertemukan perwakilan terbaik dari berbagai provinsi sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bahasa ibu dan budaya lokal di Indonesia.
Dalam penampilannya, Gata membawakan lagu Tingkilan Kutai berjudul Kawanan, karya Fauzy dari grup Petala. Lagu tersebut menjadi representasi kekayaan seni tutur dan musikal masyarakat Kutai yang diwariskan lintas generasi.
Menurut Nofand, format kegiatan di tingkat nasional tidak lagi berupa kompetisi antarpeserta. Seluruh delegasi yang hadir merupakan juara dari masing-masing daerah, sehingga agenda lebih difokuskan pada penampilan budaya dan perayaan prestasi.
“Di tingkat nasional sifatnya selebrasi para juara. Jadi tidak ada perlombaan lagi, peserta tampil mewakili daerah masing-masing,” jelasnya.
Atas partisipasi tersebut, Gata memperoleh sertifikat penghargaan sebagai juara nasional Festival Tunas Bahasa Ibu. Capaian ini diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi anak-anak daerah untuk terus mengenal, mencintai, dan melestarikan bahasa serta kesenian tradisional Kutai di tengah perkembangan zaman.
Penulis/Editor: Afi



