Bayi 6 Bulan di Desa Batuah Meninggal Saat Dirujuk, Kesiapan Oksigen Puskesmas Disorot

TENGGARONG – Kematian seorang bayi berusia enam bulan asal Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), memicu perhatian publik. Bayi tersebut meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit pada Senin (16/2/2026) dini hari, setelah sebelumnya sempat mendapatkan penanganan di Puskesmas Batuah.

Kuasa hukum keluarga, Titus T Pakalla dari Kantor Hukum TTP & Partner Law Office, mengungkapkan pihaknya telah menerima kuasa untuk menelusuri kronologi kejadian berdasarkan keterangan orang tua korban.
Menurut ayah korban, anaknya mulai mengalami demam pada Sabtu (14/2/2026) malam lalu. Kondisi memburuk keesokan harinya dengan gejala sesak napas yang semakin parah. Pada Senin sekitar pukul 03.00 WITA, keluarga membawa bayi tersebut ke Puskesmas Batuah untuk mendapatkan pertolongan medis.

Setibanya di puskesmas, petugas melakukan pemeriksaan awal termasuk pengecekan suhu tubuh. Namun keluarga berharap bayi segera diberikan bantuan oksigen karena mengalami kesulitan bernapas.

“Berdasarkan keterangan bapaknya, saat regulator dipasang ke tabung oksigen, jarumnya menunjukkan angka nol. Artinya diduga kosong,” ujar Titus, Kamis (19/2/2026).
Selain persoalan oksigen, keluarga juga menyoroti ketiadaan sopir ambulans ketika kondisi bayi disebut kritis. Karena rujukan tak segera terealisasi, keluarga akhirnya memutuskan membawa bayi menggunakan kendaraan pribadi menuju rumah sakit. Dalam perjalanan, bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia.

“Kami melihat ada persoalan pada kesiapsiagaan fasilitas dan sistem respons darurat. Ini yang sedang kami dalami,” tegasnya.

Pihak keluarga mempertimbangkan langkah hukum, termasuk kemungkinan melaporkan dugaan maladministrasi pelayanan publik ke Ombudsman.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Batuah, dr M Yuyut Arianto, memberikan klarifikasi terkait dugaan tabung oksigen kosong. Ia menegaskan bahwa oksigen tersedia dan dalam kondisi terisi.

“Secara teknis oksigen itu ada dan terisi penuh. Hanya saja ada tuas on-off di atas sebelum regulator, seperti keran. Saat itu petugas jaga kesulitan membukanya,” jelasnya.

Yuyut menyampaikan bahwa kondisi pasien saat tiba memang sudah dalam keadaan kritis. Karena oksigen tidak dapat segera digunakan, perawat menyarankan agar pasien dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap.

“Petugas sudah menelepon driver, mungkin tidak terhubung saat itu. Karena kondisi bayi semakin menurun, disarankan agar segera dibawa ke rumah sakit. Di puskesmas kami juga terbatas, hanya dijaga dua orang perawat saat itu,” ujarnya.

Terkait riwayat kesehatan, Yuyut menyebut bayi tersebut sebelumnya disebut sempat menjalani perawatan di rumah sakit lain. Namun pihaknya tidak dapat menggali lebih dalam karena menyangkut kewenangan institusi dan kerahasiaan medis.

“Keterangan dari orang tua juga saat itu tidak terlalu jelas terkait riwayat sakit dan obat yang diberikan sebelumnya. Yang jelas, saat datang kondisinya memang sudah kurang baik,” katanya.

Pihak puskesmas menyatakan terbuka terhadap proses hukum maupun mediasi. Peristiwa tersebut telah dilaporkan ke Dinas Kesehatan, dan kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) disebut telah melakukan peninjauan lapangan.

“Kami terbuka. Bahkan dari kepolisian juga ada langkah mediasi sebelum ke proses hukum. Kami akan mengikuti prosedur yang ada,” tegas Yuyut.

Kasus ini menjadi sorotan karena puskesmas merupakan fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama yang diandalkan masyarakat, terutama di wilayah kecamatan. (RK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.