TENGGARONG – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan pengurangan tenaga kerja, dilaporkan melanda kawasan Kecamatan Tenggarong Seberang. Kondisi ini memicu melonjaknya angka pengangguran serta memicu dampak sosial yang luar biasa bagi masyarakat setempat, khususnya di Desa Bukit Pariaman.
Kepala Desa Bukit Pariaman, Sugeng Riyadi, membenarkan situasi sulit yang tengah dialami warga dan dunia usaha di wilayahnya. Menurutnya, mayoritas operasional perusahaan saat ini mengalami jalan buntu yang diduga terimbas oleh kebijakan-kebijakan terbaru yang diterapkan oleh pemerintah pusat dan Presiden.
“Diakui atau tidak, kenyataannya seperti itu. Saat ini di Tenggarong Seberang perusahaan yang hanya efektif dan aktif hanya PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ). Yang lainnya saat ini mohon maaf, yang ada pengurangan,” ungkap Sugeng Riyadi.
Ia menjelaskan, dari tiga pemegang izin perusahaan besar yang ada di Tenggarong Seberang yakni PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ), PT Kutai Makmur Insan Abadi (KMIA), dan Jembayan Muara Group (JMB), hanya PT MSJ yang hingga kini terpantau masih beroperasi secara efektif.
“Dampak dari penghentian aktivitas operasional ini terasa sangat signifikan di Desa Bukit Pariaman. Salah satunya aktivitas operasional PAMA yang saat ini terhenti dan berdampak pada mendekati ratusan pekerja,” jelasnya.
Maraknya angka pengangguran akibat lonjakan PHK ini diakui menjadi beban dan Pekerjaan Rumah (PR) tersendiri bagi pihak pemerintah desa. Meski demikian, pihak desa menyadari tidak dapat berbuat banyak atau memaksakan keadaan di tengah situasi perekonomian yang sulit.
“Otomatis kami berdampak di lapangan, dampak sosialnya luar biasa. Dengan kondisi seperti ini kami tidak bisa melaksanakan (pemaksaan). Apapun dengan alasan apapun, kami tidak bisa memaksa dengan keadaan yang ada. Ya kami hanya berserah kepada pemerintah, karena pemerintah juga paham dengan kondisi ini. Jadi ini bukan rahasia lagi,” tutupnya.
Penulis: Shavira Ramadhanita
Editor: Afi



