Foto : Camat Muara Kaman, Nadi Baswan. (Shavira Ramadhanita/RadarKukar
Jadi Kecamatan Termiskin Akibat Jalan Rusak, Muara Kaman Kebut Pemekaran Wilaya
TENGGARONG – Status sebagai peringkat pertama kecamatan termiskin selama bertahun-tahun, menjadi pukulan keras bagi Pemerintah Kecamatan Muara Kaman. Buruknya akses jalan dan keterisolasian wilayah, dituding sebagai akar utama masalah ini.
Menolak terus terpuruk sebagai peringkat pertama kecamatan termiskin, pihak kecamatan kini memilih langkah untuk mengebut pemekaran wilayah demi membuka akses pembangunan.
Camat Muara Kaman, Nadi Baswan, tidak menutupi rasa mirisnya melihat kondisi wilayah yang ia pimpin. Menurutnya, pemekaran ini murni komitmen untuk menyelamatkan masyarakat dari jerat kemiskinan infrastruktur.
“Muara Kaman itu termiskin masalahnya, alasannya intinya satu, akses jalan tidak ada. Miris juga melihat peringkat satu terus selama beberapa tahun ini hanya karena masalah akses jalan. Jadi, ini harus cepat kita proses,” ungkap Nadi.
Nadi mengakui bahwa anggaran pemerintah saat ini sangat terbatas dan tidak mampu mendanai permintaan semenisasi jalan secara penuh, termasuk jalur dari Desa Sedulang.
Di tengah situasi ini, pemerintah kecamatan mengambil langkah dengan menggandeng sektor swasta. “Kemarin saya sudah bekerja sama dengan pihak perusahaan. Ada tiga perusahaan yang berkomitmen untuk membantu progres pembukaan jalan itu. Ini solusi riil kita di tengah situasi keuangan yang tidak memungkinkan,” jelasnya.
Bagi Nadi, kehadiran jalan baru merupakan kunci utama sektor transportasi yang terbuka diyakini akan langsung menghapus nama Muara Kaman dari daftar hitam wilayah termiskin.
Penyelesaian Sengketa 10 Desa Ditarget Pekan Ini
Secara administratif, pemekaran ini ditargetkan membagi rata 20 desa yang ada menjadi masing-masing 10 desa. “Namun, hambatan infrastruktur ini sempat membuat prosesnya berjalan lambat sejak tahun 2018, bahkan hingga terjadi pergantian ketua tim pemekaran sebanyak 5 sampai 6 kali,” tambahnya.
Fokus saat ini tertuju pada Desa Sedulang karena anggaran pemerintah belum mampu memenuhi tuntutan semenisasi jalan dan nama kecamatan dari mereka. Sehingga Desa Sedulang sempat ragu untuk bergabung.
Guna mematangkan kuota sepuluh desa, Nadi Baswan menjadwalkan pendekatan persuasif terakhir dalam pekan ini.
“Jika Desa Sedulang tetap menolak bergabung ke kecamatan baru, pemerintah akan langsung menarik desa alternatif lain agar administrasi tetap berjalan 100 persen, sementara Desa Benua Puhun dipastikan akan ikut berintegrasi ke atas,” ujarnya.
Nadi Baswan menegaskan bahwa ini merupakan posisi terakhirnya untuk mengawal masa depan Muara Kaman. Ia menargetkan seluruh konsolidasi desa ini selesai dalam waktu satu pekan agar roda pembangunan di wilayah baru bisa langsung tancap gas.
“Insya Allah kita ingin cepat, paling tidak satu minggu ini akan saya selesaikan itu. Kita tidak punya waktu lagi, pemekaran ini intinya untuk kesejahteraan, tidak ada yang niat mau macam-macam,” tutupnya.
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Afi



