SAMARINDA – Kemajuan akses pendidikan bagi perempuan di Indonesia dinilai belum sepenuhnya diikuti oleh terbukanya peluang yang setara di dunia kerja maupun ruang kepemimpinan. Persoalan budaya patriarki, kesenjangan pendapatan, hingga minimnya ruang pengambilan keputusan masih menjadi tantangan yang dihadapi perempuan hingga saat ini.
Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan penguatan kapasitas masyarakat terkait pemanfaatan riset dan inovasi yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalimantan Timur di Samarinda, Kamis (21/5/2026).
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengatakan saat ini perempuan Indonesia telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam bidang pendidikan. Bahkan, jumlah perempuan yang berhasil menempuh pendidikan tinggi terus meningkat dan tidak lagi tertinggal dibanding laki-laki.
Namun demikian, menurutnya capaian akademik tersebut belum otomatis membuka jalan terhadap posisi strategis di lingkungan kerja maupun sektor pengambilan kebijakan.
“Pendidikan perempuan sekarang jauh berkembang. Banyak yang unggul secara akademik, tetapi tantangan sebenarnya muncul ketika berbicara soal kesempatan memimpin dan memperoleh penghargaan yang setara,” ujarnya.
Hetifah menilai masih terdapat stereotip sosial yang memengaruhi posisi perempuan di ruang profesional. Salah satu fenomena yang disoroti adalah kecenderungan perempuan kerap dipandang sebelah mata saat menyampaikan gagasan atau pendapat.
Selain itu, ia juga menyinggung masih adanya kesenjangan pendapatan antara pekerja perempuan dan laki-laki meskipun memiliki tingkat pendidikan yang sama. Kondisi ini disebut menunjukkan bahwa kualitas pendidikan belum sepenuhnya menjadi jaminan kesetaraan perlakuan di dunia kerja.
Menurutnya, tantangan perempuan tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga hambatan psikologis akibat budaya sosial yang telah terbentuk sejak lama. Banyak perempuan, kata dia, masih merasa ragu tampil sebagai pemimpin atau kurang percaya diri menyampaikan gagasan di ruang publik.
Dalam momentum peringatan semangat kebangkitan nasional, Hetifah mendorong perempuan untuk lebih aktif terlibat dalam pengembangan inovasi dan pemanfaatan hasil riset sebagai solusi persoalan masyarakat.
Ia menilai perempuan memiliki peluang besar menjadi penggerak perubahan melalui pengembangan usaha kreatif, teknologi sederhana, hingga inovasi berbasis kebutuhan keluarga dan lingkungan sekitar.
“Perempuan punya potensi besar menjadi inovator. Bahkan dari rumah pun bisa memulai ide-ide yang berdampak bagi keluarga maupun masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Periset BRIDA Kaltim, Prof Rizki Maharani, menyebut keterlibatan perempuan dalam riset dan pengambilan keputusan memiliki pengaruh besar terhadap pembangunan sosial dan ekonomi.
Menurutnya, perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga perlu didorong menjadi aktor utama dalam menciptakan solusi atas persoalan di masyarakat.
“Ketika perempuan diberi ruang untuk terlibat dalam inovasi, dampaknya bisa dirasakan langsung, mulai dari keluarga hingga komunitas yang lebih luas,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, BRIN dan BRIDA Kaltim berharap perempuan di daerah semakin memahami manfaat hasil riset serta memiliki keberanian untuk mengembangkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. (RK)



