TENGGARONG – Seorang pria di Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ditemukan dalam kondisi memprihatinkan di rumahnya sendiri. Ia hidup tanpa perawatan, dengan kondisi fisik dan lingkungan yang jauh dari kata layak.
Temuan ini pertama kali direspons relawan setempat setelah mendapat laporan warga. Kondisi korban disebut sudah cukup lama tidak terurus, sebelum akhirnya dapat tertangani.
Ketua Relawan Kamaseku 03, Hendra, mengungkapkan kondisi korban saat pertama kali ditemukan sangat memprihatinkan. Ia melihat langsung bagaimana korban tidak lagi mampu mengurus diri sendiri.
Ia menjelaskan bahwa korban diketahui bernama Saharudin (55). Saat ditemukan dalam keadaan tidak terurus, termasuk kondisi tempat tinggal yang kotor dan tidak layak dihuni.
“Saya lihat kondisinya beliau BAB di atas kasur dan satu makanannya sudah ditiduri,” ujar Hendra.
Melihat kondisi tersebut, relawan langsung mengambil tindakan awal dengan membersihkan lokasi dan berkoordinasi dengan pihak setempat.
Langkah itu dilakukan berjenjang, mulai dari ketua RT hingga pemerintah desa. Sebelum akhirnya kasus tersebut dibawa ke instansi terkait.
“Saya langsung kordinasi dengan pak RT, habis itu ke desa, sampai akhirnya kami ambil langkah antar ke dinas,” ujar dia.
Informasi yang dihimpun relawan menyebut kondisi Saharudin sudah berlangsung cukup lama. Warga sekitar menilai perubahan perilaku korban terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Korban disebut mulai linglung dan tidak merespons makanan yang diberikan. Ia juga kerap berbaring sembarangan dan tidak menjaga kebersihan diri.
Situasi ini semakin memprihatinkan karena tidak ada pihak keluarga yang merawat secara langsung.
Relawan juga mendapat informasi bahwa korban memiliki lima anak, termasuk seorang anak berusia 9 tahun yang sempat bersekolah. Namun kini tidak lagi melanjutkan pendidikan.
“Tapi anaknya yang 4 sudah tidak mau ngurus, dia tinggal sama anak bungsunya yang masih 9 tahun,” sebutnya.
Ke empat anaknya, kata Hendra enggan mengurus pria malang tersebut lantaran semasa hidupnya kerap berbuat kasar. Tetangga di lingkungannya pun tidak ada yang sanggup mengurus Saharudin, sehingga ia memutuskan untuk membawanya ke Dinas Sosial Kukar.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kukar, Sunarko, memastikan korban bukan termasuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Hal itu berdasarkan hasil pemeriksaan awal dari tenaga kesehatan.
Ia menjelaskan bahwa kondisi korban lebih mengarah pada depresi dan penelantaran, bukan gangguan mental berat. “Dipastikan dia tidak ODGJ, dia masih nyambung, hanya linglung karena depresi,” ujar Sunarko.
Sunarko menyebut korban saat ini telah dibawa ke Dinsos untuk penanganan awal. Meski kapasitas shelter penuh, pihaknya tetap menerima karena kondisi korban membutuhkan penanganan segera.
Setelah itu, korban akan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis sebelum diproses lebih lanjut.
Rencana berikutnya adalah asesmen untuk kemungkinan rujukan ke panti rehabilitasi sosial di tingkat provinsi. “Kami akan bawa ke rumah sakit untuk dirawat dulu sementara, setelah itu baru proses rujuk ke panti,” ujar dia. (RK)



