Meski Bulan Ramadan, SPPG APT Pranoto Pastikan MBG Tetap Berjalan

SANGATTA – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kutai Timur (Kutim) tetap berlangsung, selama bulan Ramadan. Namun, pola distribusi dan jenis menu disesuaikan agar tetap aman dikonsumsi serta menghormati siswa yang menjalankan ibadah puasa.

Kepala SPPG APT Pranoto Kutim, Dinand Perdana, mengatakan pihaknya mengganti menu basah dengan makanan kering yang lebih tahan lama. Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan resmi dari Badan terkait pelaksanaan MBG selama Ramadan.

“Menu yang dipakai sekarang menu kering, artinya makanan yang bisa bertahan 4 sampai 6 jam. Jadi yang dibagikan itu seperti roti, donat, risol, dan nanti rencana puding buah,” ujar Dinand saat diwawancara, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, seluruh menu diproduksi di dapur SPPG APT Pranoto untuk memastikan kualitas dan kebersihan tetap terjaga. Distribusi juga tidak lagi dilakukan pagi hari, melainkan mendekati jam pulang sekolah, khususnya di sekolah dengan mayoritas siswa Muslim.

“Kasihan guru-gurunya juga. Mereka kan mengajarkan anak-anak puasa. Kalau kita datang jam 8 seperti biasa, itu bisa mengganggu,” katanya.

Sebelum perubahan jadwal diberlakukan, koordinasi dilakukan dengan masing-masing sekolah. Jika terdapat keberatan, penyesuaian distribusi tetap dimungkinkan.

“Kalau sekolah tidak berkenan, tidak masalah. Kita sesuaikan distribusinya,” tambahnya.

Selama Ramadan, aktivitas dapur turut mengalami penyesuaian. Produksi dilakukan setelah waktu sahur dengan porsi lebih sederhana dibanding hari biasa.

“Kami mulai habis sahur jam 5 atau paling lambat jam 6. Masaknya hanya sekitar 8 sampai 10 persen saja, menu yang simpel,” jelas Dinand.

Pengiriman disesuaikan dengan jam pulang siswa. Sekolah yang selesai pukul 12.00 menerima distribusi sekitar pukul 11.00, sementara sekolah dengan jadwal lebih awal mendapat kiriman lebih cepat.
Selain siswa, program MBG juga menyasar kelompok balita, ibu hamil, dan ibu menyusui melalui posyandu dengan jadwal distribusi dua kali sepekan. Untuk kelompok tersebut, standar keamanan dan tekstur makanan diperhatikan secara ketat.

“Balita itu tidak boleh sembarangan. Teksturnya harus lembut, karena kalau keras bisa berisiko,” ujarnya.

Menu untuk posyandu meliputi roti abon, roti kacang hijau, donat, susu UHT, serta susu khusus ibu hamil. Dinand menegaskan prinsip kehati-hatian menjadi prioritas utama agar tidak terjadi Kejadian Luar blBiasa (KLB) akibat pangan.

“Yang paling penting itu makanan harus segar. Jangan masak hari ini, besok baru distribusi. Itu bahaya,” tegasnya.

Hingga saat ini, distribusi MBG di Kutim berjalan tanpa laporan KLB. Terkait wacana perubahan skema bantuan menjadi tunai, Dinand menegaskan pihaknya tetap menjalankan tugas sesuai fungsi dapur.

“Kami ini pelaksana. Kalau ada aturan baru, tentu kami ikut,” tutupnya. (RK)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.