TENGGARONG – Penanganan stunting di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) melalui data statistik 2024 di Kukar, berada di angka 14,2persen. Namun, berkat pengukuran serentak yang dilakukan pada tahun 2025, angka tersebut kini berhasil ditekan hingga mencapai 12,6 persen.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menyatakan bahwa data terbaru menunjukkan penurunan angka signifikan. Kini menempatkan Kukar jauh di bawah rata-rata nasional dan provinsi. Pencapaian yang luar biasa, karena Kukar sudah berada di bawah angka standar rata-rata.
“Alhamdulillah, sekali lagi angka statistik memperlihatkan terjadi penurunan di angka 12,6 persen. Kalau kita sudah berada di bawah angka standar rata-rata, penurunan setiap digit itu merupakan sesuatu yang sangat berat. Mempertahankannya pun itu sebenarnya suatu langkah yang sangat luar biasa,” ungkap Aulia Rahman Basri.
Bupati Aulia menegaskan bahwa penurunan angka stunting ini menjadi indikasi bahwa Kukar telah berada di posisi pembangunan yang tepat. Ia menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan untuk memastikan keberlanjutan program.
”Kami berharap ada dua hal yang harus kita lakukan, yang pertama kita melakukan evaluasi terhadap langkah-langkah yang harus kita optimalkan. Dan kedua kita mengevaluasi mana-mana yang sudah tepat dan harus kita pertahankan langkahnya,” tambahnya.
Ia juga meminta Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) untuk melakukan inovasi yang tetap berbasis (baseline), serta memastikan pembangunan yang dilakukan bersifat berkelanjutan.
Bupati Aulia, menyoroti penanganan stunting, yang menurutnya lebih berat dibandingkan penurunan angka kemiskinan. Ia menjelaskan bahwa stunting adalah masalah hilir.
”Salah kiranya ketika kita hanya menempatkan tanggung jawab stunting ini berada di salah satu dinas saja. Akan tetapi yang kita pahami sebagai sebuah langkah konvergensi, maka stunting ini merupakan kerja kita bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati Aulia mengatakan bahwa isu stunting tidak hanya berbicara angka-angka ekonomi, tetapi juga angka-angka psikologis seperti pola asuh. “Banyak kasus stunting terjadi pada anak dari orang tua yang secara ekonomi mampu, tetapi sibuk dengan urusan masing-masing sehingga pola asuh tidak maksimal,” tutup Aulia.
Penulis : Shavira Ramadhanita



