SABTU, 26 Juli 2025, menjelang malam TEMARAM di Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah (PPDU) Malang, suasana pondok terasa lebih hidup dari biasanya. Lapangan utama disulap menjadi panggung seni. Sorotan lampu dipasang, dekorasi dirapikan, dan para santri tampak sibuk mempersiapkan diri.
Malam itu adalah puncak acara TEMARAM 15 (Tebar Semangat Muharram), pagelaran seni tahunan Daarul Ukhuwwah yang juga menjadi bagian dari peringatan ulang tahun ke-16 pesantren sekaligus menyambut tahun baru Islam 1447 H.
Dengan mengusung tema “Rise Beyond the Limit”, acara berlangsung meriah sejak pukul 19.30 hingga 22.30 WIB. Rangkaian penampilan disusun oleh para santri pengabdian dan menyuguhkan beragam persembahan: hadroh, paduan suara, mapping visual, tari daerah, nasyid, martial art show, puisi berantai, hingga drama islami. Penampilan massal para siswa menampilkan koreografi penuh cahaya yang memukau penonton.
Di tengah pertunjukan, disisipkan momen penggalangan dana kemanusiaan untuk Palestina, bekerja sama dengan KNRP. Momen ini menunjukkan bahwa panggung seni juga bisa menjadi medium solidaritas dan empati.
Anak saya, Muhammad Azka Wirasena, ikut ambil bagian di tengah kemeriahan itu. Tahun ini, ia tampil di sesi grand opening—membawakan tarian pembuka dan Tari Saman bersama 41 santri lainnya. Azka kini duduk di kelas 3. Sebagai orang tua, saya merasa bangga sekaligus bersyukur.
Saya dan istri menyimak TEMARAM dari rumah, lewat siaran langsung YouTube. Meski dari kejauhan, suasananya tetap terasa. Saat Azka tampil di atas panggung—tenang, percaya diri, dan penuh semangat—ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Kami sadar, pondok bukan sekadar tempat belajar kitab, tapi juga tempat tumbuh. Anak-anak hidup tanpa HP, tanpa media sosial, tapi justru lebih sadar diri, lebih disiplin, dan lebih peka terhadap sesama.
Azka adalah anak ketiga kami. Seperti dua kakaknya, ia menempuh pendidikan dasar di SDN 003 Bontang Utara, lalu melanjutkan ke Daarul Ukhuwwah Malang—memilih jalur pondok sejak awal. Kakaknya, Muhammad Zacky Alghofari, sempat bersekolah di SMP DHBS (Daarul Hikmah Bontang School), lalu melanjutkan ke Pondok Pesantren Gontor 3 Kediri. Tahun ini ia telah diwisuda dan kini sedang menjalani masa pengabdian. Anak pertama kami, Alfiani Hanifah Salsabila, menyelesaikan pendidikan SMP hingga SMA di DHBS dan kini sedang menjalani KKN sambil menyelesaikan semester tujuh di FKIP Universitas Mulawarman, jurusan Ilmu Komputer.
DHBS sendiri adalah sekolah Islam terpadu di bawah Yayasan Daarul Hikmah Bontang. Sistem pendidikannya menggabungkan Kurikulum Merdeka dengan materi khas pesantren: tahfiz, akidah, akhlak, fikih, bahasa Arab dan Inggris aktif, hingga kajian kitab salaf. Di jenjang SMP dan SMA, siswa tinggal di asrama. Ada pula program unggulan seperti tahfiz intensif, pelatihan kepemimpinan, kewirausahaan, dan pembinaan kemandirian.
Kebanggaan kami malam itu terasa makin dalam ketika melihat antusiasme orang tua lain yang juga menyaksikan dari rumah. Di kolom komentar YouTube, bermunculan tanggapan seperti:
“Subhanallah, luar biasa! Anak-anak tampil kompak dan bersemangat.”
“Meski cuma nonton di rumah, hati seperti ikut di panggung pesantren.”
“Bangga dengan nilai yang dibawa: kemandirian, disiplin, dan kasih pada Al‑Qur’an.”
Komentar-komentar itu menguatkan. Rise Beyond the Limit bukan sekadar slogan. Ia hidup dalam rasa rindu, dalam kebanggaan, dan dalam harapan orang tua yang menitipkan anak-anaknya di pondok.
Memilih pondok bukan keputusan yang mudah. Di awal terasa berat. Bahkan sampai sekarang, kadang masih berat. Rumah yang dulu ramai, kini sering sepi. Tidak semua anak bisa pulang saat liburan. Tapi tahun ini, Lebaran menjadi momen langka—kami bisa berkumpul lengkap. Semoga tahun depan, Allah izinkan lagi.
Kami percaya, lewat kesederhanaan hari ini, anak-anak kami sedang tumbuh. Dari ibadah harian, dari panggung kecil bernama TEMARAM, mereka belajar menjadi pribadi yang kuat, berilmu, dan siap mengabdi. (*)
Oleh: Agus Susanto S.Hut., S.H., M.H.






