Deteksi Dini Kanker Serviks Bersama Teman Sebaya

BAYANGKAN apabila seorang ibu kehilangan kesempatan melihat anaknya tumbuh hanya karena kanker serviks terlambat diketahui. Kondisi ini sebenarnya dapat dicegah. Kanker serviks bukan lagi penyakit yang harus ditakuti apabila ditemukan sejak dini melalui pemeriksaan sederhana seperti IVA atau tes HPV. Sayangnya, masih banyak perempuan yang belummemanfaatkan layanan tersebut.

Di Kabupaten Kutai Kartanegara, cakupan skrining kanker serviks masih perlu terus ditingkatkan. Padahal, pemerintah telah menyediakan layanan pemeriksaan di berbagai Puskesmas. Persoalannyabukan hanya ketersediaan layanan, tetapi bagaimana membangun keberanian, kesadaran, dan kemauan perempuan untuk datang memeriksakan diri
Mengapa Skrining Kanker Serviks Penting?

✔ Pemeriksaan hanya membutuhkan waktu beberapa menit.
✔ Dapat menemukan kelainan sebelum berkembang menjadi kanker.
✔ Peluang sembuh jauh lebih tinggi bila terdeteksilebih awal.
✔ Mengurangi biaya pengobatan yang harusditanggung keluarga.
✔ Melindungi kesehatan perempuan, keluarga, dangenerasi berikutnya.
Mengapa Perempuan Masih Enggan?

Berbagai alasan masih sering ditemukan. Ada yang merasa malu diperiksa, takut mengetahui hasil pemeriksaan, menganggap dirinya sehat karena tidakmemiliki keluhan, atau belum memahami pentingnyadeteksi dini.

Sebagian lainnya belum pernah mendapatkan ajakan langsung dari orang terdekat.

Padahal kanker serviks berkembang perlahan. Sebelum menjadi kanker, terdapat perubahan padaleher rahim yang dapat diketahui lebih awal melalui skrining. Apabila ditemukan pada tahap awal, penanganannya jauh lebih mudah, peluang sembuh lebih tinggi, dan biaya pengobatan jauh lebih rendah.

Inilah yang menjadi tantangan bersama. Edukasi tidak cukup hanya dilakukan melalui penyuluhanformal. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dekatdengan kehidupan masyarakat.
Saatnya Mengandalkan Kekuatan Kelompok Sebaya

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering kali lebih mudah menerima saran dari teman yang dipercaya. Ajakan sahabat, tetangga, atau sesamaanggota PKK sering lebih efektif dibandingkan ceramah panjang.

Berangkat dari kondisi tersebut, lahirlah gagasan ‘pendekatan kelompok sebaya (peer group)’ sebagaistrategi baru dalam meningkatkan skrining kankerserviks. Konsepnya sederhana yaitu perempuan saling mengajak, saling mengingatkan, saling mendampingi, dan saling memberikan semangat untuk melakukan pemeriksaan. Dengan pendekatan ini, rasa takut dan malu dapat dikurangi karena perempuan merasa tidaksendirian.

Kelompok sebaya dapat menjadi ruang berbagipengalaman. Perempuan yang pernah melakukan pemeriksaan dapat menceritakan bahwa prosesnya cepat, aman, dan tidak sesulit yang dibayangkan. Pengalaman positif seperti ini sering kali lebih meyakinkan daripada sekadar membaca brosur atau mendengarkan penyuluhan.
Dari Penelitian Menjadi Gerakan Masyarakat

Pendekatan ini sedang dikembangkan menjadi sebuah model pemberdayaan masyarakat yang melibatkan kader kesehatan, PKK, Posyandu, Posbindu, organisasi perempuan, hingga komunitas desa.

Melalui model tersebut, anggota kelompok sebayatidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di lingkungannya.Mereka berperan sebagai penyampai informasi, pemberi motivasi, pengingat jadwal skrining, pendamping saat pemeriksaan, sekaligus sumber dukungan bagi perempuan lain.
Apabila gerakan ini berjalan secara berkelanjutan, budaya melakukan skrining tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup sehat perempuan.
Hasil Yang Diharapkan

Penerapan model kelompok sebaya di Kabupaten Kutai Kartanegara diharapkan mampu menghasilkan berbagai perubahan nyata, antara lain:
✓ Meningkatnya pengetahuan perempuan mengenai kanker serviks dan pentingnya deteksi dini;
✓ Meningkatnya keberanian serta kepercayaan diriuntuk melakukan pemeriksaan IVA maupun tesHPV;
✓ Meningkatnya cakupan skrining kanker serviks di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara;
✓ Ditemukannya lebih banyak kasus pada tahap awal sehingga pengobatan menjadi lebih efektif;
✓ Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks;
✓ Meningkatnya kualitas hidup perempuan usiaproduktif;
✓ kurangnya beban pembiayaan kesehatan bagi keluarga maupun pemerintah daerah; serta
✓ Mendukung terwujudnya target eliminasi kanker serviks di Indonesia.
Saatnya Bergerak Bersama

Keberhasilan pencegahan kanker serviks bukanhanya tanggung jawab tenaga kesehatan. Peran keluarga, sahabat, organisasi perempuan, pemerintah daerah, dan seluruh masyarakat sangat menentukan.

Mari kita jadikan Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai daerah yang peduli terhadap kesehatan perempuan. Mulailah dari langkah sederhana: mengajak satu teman untuk melakukan skrining kanker serviks.

Karena satu ajakan dapat menyelamatkan satu kehidupan. Dan satu perempuan yang sehat akan melahirkan keluarga yang lebih kuat serta masyarakat yang lebih sejahtera.

Penulis Hamdana Yunisar, S.ST.,M.Kes
(Mahasiswi Program Doktor Fakultas KesehatanUniversitas Mega Buana Palopo Provinsi Sulawesi Selatan/Administrasi Kesehatan AhliPertama Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara)

** Isi tulisan merupakan pandangan dan tanggung jawab penulis

* Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi tulisan

Editor: Yahya Yabo

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.