TENGGARONG – Memanfaatkan momen kepulangannya ke Kutai Kartanegara (Kukar), mantan bupati Kukar 2 periode, Rita Widyasari, akhirnya buka suara secara blak-blakan mengenai kasus hukum yang menjeratnya.
Rita menegaskan adanya indikasi kriminalisasi serta ketidakadilan tebang pilih yang ia rasakan sejak awal persidangan bergulir, terutama mengenai peran “Tim Sebelas” yang sempat menyita perhatian publik.
Untuk meluruskan persepsi publik, Rita mengaku sengaja membuat akun media sosial pribadi agar masyarakat bisa mendengar langsung penjelasan dari sudut pandangnya.
“Makanya saya buat akun itu, saya ingin menjelaskan juga bahwa ada seperti kriminalisasi lah kalau juga katakan pada saya itu. Dari awal saya bilang di sidang itu saya tidak pernah disebutkan menerima,” ungkap Rita saat ditemui di kediamannya di Tenggarong.
Rita membeberkan kembali jalannya persidangan pertama yang menghadirkan dua nama yang kerap dikaitkan dengan Tim Sebelas, yaitu Junaidi dan Khairudin. Ia mempertanyakan perbedaan status hukum di antara keduanya, padahal kesaksian para pengusaha di persidangan menyebutkan aliran dana tertuju pada dua nama tersebut, bukan kepada dirinya.
“Tapi di dalam sidang yang pertama itu ya, Tim Sebelas itu kan ada dihadirkan, disebutkan Tim Sebelas itu Junaidi sama Khairudin ya. Tapi Junaidi tidak tersangka, Khairudin jadi terdakwa. Khairudin dibilang tidak, sama pengusaha-pengusaha yang hadir. Tidak ada satupun yang pengusaha, walaupun Khairudin dan Junaidi memberikan kepada saya. Diikat sama mereka, jadi mereka baik. Maksudnya baik, tidak menuduh saya, memang saya tidak menerima,” jelas Rita
Rita secara terbuka memprotes keras apa yang disebutnya sebagai tindakan tidak adil dalam penegakan hukum. Ia mempertanyakan mengapa instansi penegak hukum terkesan tebang pilih dan tidak menyeret seluruh pihak yang terlibat dalam pusaran kasus tersebut.
“Itu masalah cuma gak adilnya kenapa Junaidi itu gak dipenjara, padahal dia juga nerima. Terus kenapa kalau cuma Abun doang yang nerima Rp6 miliar itu, yang lainnya? Itu apa namanya, kan ada Rp110 miliar tuh, Abun cuma Rp6 miliar, sisanya mana yang ngasih, kok gak masuk penjara. Maksudku adil aja lah gitu loh, kalau memasuki orang sama-sama gitu loh. Jangan sebelah-sebelah, karena dendam atau apa gitu lah, pokoknya gak ngerti perasaan saya, kok gak adil,” ujar Rita.
Di balik beratnya beban hukum yang harus dihadapinya, Rita menceritakan pengalamannya yang harus berpindah-pindah tempat penahanan. Tercatat, ia telah melewati total tujuh fasilitas tahanan yang berbeda di bawah naungan lembaga antirasuah maupun Kemenkumham.
“Saya mengalami tiga lapas, tiga rutan, satu lapas KPK, satu lapas Tangerang, total tujuh lapas. Gila, Pak. Dan saya bahagia aja. Saya jalanin,” tuturnya.
Meski demikian, Rita mengaku kondisi fisiknya saat ini justru jauh lebih prima dan sehat dibandingkan saat dirinya masih aktif menjabat dahulu. Selama di dalam tahanan, ia mengisi waktu luangnya dengan kedisiplinan berolahraga, berdoa, hingga menyalurkan hobi melukis tanpa alat elektronik.
“Aku lebih sehat dibandingkan dulu. Dulu aku berolahraga agak jarang, sekarang aku berolahraga setiap hari. Tau gak, satu kopernya itu isinya alat olahraga. Jadi saya meluangkan waktu ya karena memang enggak ada ngapa-ngapain, melukis, menggunakan semua peralatan yang bukan elektronik,” pungkasnya.
Mengingat sejumlah proses penyidikan baru dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus berjalan hingga hari ini, Rita mengungkapkan sebuah fakta baru.
Ia mengaku telah menyampaikan permintaan langsung kepada tim penyidik agar agenda pemeriksaan atau ekspose kasus selanjutnya dilakukan di Kalimantan Timur (Kaltim), bukan lagi di Jakarta.
“Akhirnya saya kemarin kan diperiksa lagi kan ya. Saya bilang sama ibu penyidiknya, ‘Bu, saya pengennya nanti kalau pemeriksaan di sini (Kaltim). Jadi saya tunggu ibu di Kaltim,'” ungkapnya.
Bukan tanpa alasan, Rita merasa di tanah kelahirannya kedekatannya dengan rakyat Kukar secara psikologis dapat memberikan dukungan moral tersendiri baginya dalam menghadapi proses hukum yang tersisa.
“Karena saya merasa bahwa rakyat Kutai itu, saya bisa dekat sama rakyat Kutai gitu loh. Minimal mereka bisa kirim bihun lah, bisa kirim bakso,” tutupnya.
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Afi



