TENGGARONG – Mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyasari, akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, pada Jumat (12/06/2026). Kepulangan ini menjadi momen emosional bagi Rita, setelah dirinya menjalani vonis hukuman 9 tahun penjara sejak masa penahanan dimulai pada tahun 2017 lalu.
Meski dilaporkan telah bebas murni dari vonis tersebut sejak Agustus 2025, sejumlah penyidikan terkait kasus hukum lainnya yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus berjalan hingga saat ini.
Setibanya di Tenggarong, Rita tidak mampu menyembunyikan rasa haru yang mendalam atas sambutan luar biasa dari masyarakat setempat. Ia menceritakan bahwa selama perjalanan di pesawat, dirinya sengaja menyamar dengan penutup agar tidak dikenali oleh publik.
“Terharu ya Allah, apalagi tadi pas melewati jembatan ya, waktu turun dari bak masuk pesawat sampai di dalam pesawat saya enggak pernah buka ini yang tutup biasa-biasa, saya suka nyamar kan sebenarnya biar enggak kelihatan orang. Begitu turun, cuma satu sahabat saya itu Yagi. Terus sananya saya pikir enggak banyak orang, eh taunya ada di Lembuswana, ada motor-motor. Katanya naik motor aja, ya udah ikut, sampai di itu banyak iring-iringan. Alhamdulillah luar biasa disambut luar biasa,” ungkap Rita dengan rasa terharu.

Saat dimintai tanggapan mengenai kondisi Tenggarong saat ini, Rita memuji perkembangan infrastruktur kota, termasuk area publik yang dulu sempat ia harapkan.
“Keren, saya senang. Cuma Pulau Kumala aja ya tinggalnya. Saya lihat dari sekilas gitu, kan dulu kan saya yang bongkar (Taman) Tanjong gitu. Cita-cita saya memang buat begitu lah pokoknya ya, buat nongkrong-nongkrong gitu. Alhamdulillah selama udah jadi, bagus, keren,” ujarnya.
Kembali ke rumah tempat ia merayakan ulang tahun ke-17 dahulu, Rita mengaku hal utama yang paling ia rindukan adalah kuliner legendaris setempat. Khususnya Bakso GLG yang sudah ia gemari sejak lama, serta masakan khas Kutai buatan ibundanya.
“Saya rindu makan bakso, dulu umur 17 tahun, ulang tahun acaranya di rumah ini. Makanannya Bakso GLG, sehari saya bisa 3 kali makan Bakso GLG. Sering dikirimin ke lapas juga temanku semua bilang enak, enggak aneh rasanya. Ibu saya kan turunan Dayak, jadi bujur-bujuran sini, jadi bujur-bujur kangen dengan makanan sini,” jelasnya.
Meski banyak masyarakat yang menyuarakan dukungan untuk kembali ke panggung politik praktis, Rita menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah beristirahat, menenangkan diri, dan mengurus aset-asetnya yang tersisa di Tenggarong guna menekan biaya hidup yang tinggi di Jakarta.
“Aku ini dimusuhin orang banyak sekali. Astaga, kalau aku mau istirahat, mau lihat-lihat aset gitu loh, mau berdoa. Nanti kan kumpul di sini doa-doa. Kan nanti juga kalau itu kan Juli kan haul bapak saya gitu ya. Saya mau ke kuburan bapak sama adik,” pungkas Rita.
Kepulangannya ini juga dimanfaatkan untuk berziarah ke makam keluarga besar yang wafat selama kurun waktu 9 tahun dirinya berada di dalam tahanan, di mana ia sempat terputus komunikasi. “Banyak keluarga di sini, bahkan tante-tante aku kayak misalnya kakak adek ibuku yang meninggal, aku kan gak ada tuh dalam waktu kurun 9 tahun ini. Karena saya memang terputus hubungan sama keluarga, banyak tidak kontakan sama keluarga, tidak mau tahu urusan berita-berita,” kata Rita.
Mengenai rencana silaturahmi, Rita menjadwalkan kunjungan hormat kepada Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Namun, ia secara tegas menyatakan enggan bertemu dengan tokoh-tokoh politik dan lebih memilih berbaur dengan masyarakat biasa.
“Saya lebih suka rakyat aja, saya nggak mau temu-temu yang gitu-gitu, malas, capek. Rakyat aja lebih seru. Oh saya ke Sultan besok rencananya, kalau nggak besok, besoknya,” tambahnya.
Rita juga mengaku terharu saat melihat antusiasme warga yang menyiapkan spanduk penyambutan hingga membawa kenangan masa kejayaan klub sepak bola Mitra Kukar.
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Afi



