Kepala BGN Baru, Kebijakan Baru?

Oleh : Muhammad Rafi’i – Direktur Radar Kukar

NANIK Sudaryati Deyang kini resmi jadi nahkoda baru Badan Gizi Nasional (BGN). Ia dilantik di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/6/2026), bersama Agustina Arumsari dan Trenggono sebagai wakil kepala BGN. Setelah Dadan Hindayana Cs ditangkap Kejaksaan Agung (Kejagung), pada Rabu (3/6/2026) lalu atas dugaan korupsi dan penyelewengan wewenang saat menjabat.

Nanik sendiri bukan orang baru. Ia naik tingkat menggantikan Dadan. Sebelumnya perempuan yang berlatar belakang wartawan dan politikus ini, merupakan wakil ketua BGN.

Namun yang menarik, tiga hal yang dijanjikan oleh mantan Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan itu dalam membenahi tata kelola program Makanan Nergizi Gratis (MBG): efisiensi anggaran, peningkatan kualitas dapur MBG dan evaluasi penerima manfaat.

Pasca dilantik, ia memastikan “rem total” pembangunan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru. Saat ini tercatat di dalam virtual account ada sebanyak 27.877 SPPG dari target total 33.670 unit yang tersebar di 38 provinsi. Dengan 28.000 unit SPPG berfokus di kawasan perkotaan dan wilayah padat penduduk. Sementara 8.617 unit SPPG sisanya di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). “Akan kita tata,” ucap Nanik pasca dilantik.

Dengan kapasitas tersebut, BGN menargetkan untuk melayani hingga 82,9 juta penerima manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Termasuk siswa, balita, serta ibu hamil dan menyusui.

Ia pun memastikan program MBG tidak serampangan. Tidak asal menyasar siswa, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Namun memastikan tepat sasaran ke penerima yang memang membutuhkan.

Quality Control pun dipastikan berjalan. Tidak asal membangun SPPG dan menyalurkan MBG ke sekolah-sekolah. Jika membaca maksud Nanik, ia ingin SPPG yang dibangun berorientasi kualitas, bukan kuantitas. Memastikan output yang dihasilkan benar-benar memberikan gizi yang baik untuk anak-anak.

Infografis. (AI)

Tentu ini menjadi tantangan bagi Nanik, apakah mampu mengembalikan kepercayaan publik setelah kasus korupsi menggerogoti BGN belum lama ini. Banyak “dosa-dosa” yang dilakukan BGN. Mulai dari dugaan praktik jual beli titik SPPG, dugaan pengendalian yayasan yang mengelola SPPG.

Kemudian penggelembungan pengadaan hal-hal yang dirasa tidak perlu. Seperti pengadaan berbagai barang dan jasa proyek MBG yang meliputi motor listrik, sepatu, tablet, dan televisi.
Tentu janji manis yang keluar dari ucapan Nanik tak sekadar angin surga. Patut ditunggu pengelolaan salah satu program prioritas Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo- Gibran.

Tidak ada lagi distribusi makanan yang keburu basi sebelum dimakan penerima manfaat. Porsi dan jenis makanan yang nyeleneh dan asal jadi dari SPPG. Pun masih terasa lekat di pikiran kita, adanya oknum pengelola SPPG yang berjoget-joget karena menerima insentif besar dari BGN. Dengan janji-janji ini, diharapkan tidak ada lagi kasus keracunan makanan, dari yang awalnya berniat memberikan asupan gizi untuk anak-anak Indonesia.

Publik kini tidak membutuhkan sekadar janji, melainkan bukti nyata bahwa Badan Gizi Nasional benar-benar berbenah. Pergantian pucuk pimpinan harus menjadi momentum membersihkan praktik buruk yang mencederai kepercayaan terhadap program Makan Bergizi Gratis. Transparansi pengelolaan anggaran, pengawasan ketat terhadap SPPG, hingga kualitas makanan yang diterima anak-anak tidak boleh lagi menjadi ruang kompromi.

Sebab program ini bukan sekadar proyek pemerintah, melainkan investasi masa depan generasi Indonesia. Jika pembenahan gagal dilakukan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas lembaga, tetapi juga kesehatan jutaan anak penerima manfaat. (*)

⚠️ Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.