TENGGARONG – Pelaksanaan event tahunan bergengsi, Kukar Festival Budaya Nusantara (KFBN) 2026, yang biasanya diselenggarakan setiap bulan Juli, kini tengah berada di ambang ketidakpastian. Di tengah langkah efisiensi yang diambil pemerintah daerah, festival budaya tersebut saat ini masih berstatus “lampu kuning” akibat pertimbangan kondisi keuangan.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara, Awang Agus Darmawan, mengungkapkan bahwa pihak dinas belum dapat memberikan jawaban pasti mengenai apakah festival akbar tersebut akan tetap diadakan atau ditiadakan pada tahun ini.
“Kita masih melihat kondisi keuangan kita. Saya belum bisa pastikan tidak ada, cuman kan memang sudah kita rencanakan anggarannya, atau bagaimana adanya nanti. Kalau memang memungkinkan, keuangan kita memungkinkan. Masih lampu-lampu kuning untuk saat ini,” ungkap Awang Agus Darmawan.
Ia menjelaskan bahwa belum ditekannya tombol hijau untuk KFBN 2026 dikarenakan pemerintah daerah harus menyusun skala prioritas yang ketat. Anggaran yang ada harus dialokasikan ke program-program mendesak yang memiliki dampak langsung dan nyata secara ekonomi bagi masyarakat luas.
“Kira-kira seperti itu, karena masih ada prioritas kegiatan yang lain yang lebih penting,” tambahnya.
Prioritas utama dan sedang berjalan dalam waktu dekat ini, Awang Agus menegaskan bahwa fokus penuh instansinya tahun ini diarahkan pada penguatan sektor riil masyarakat. Salah satunya melalui program SOE (Simpang Odah Etam). Program mingguan ini dinilai sukses besar dalam menggerakkan roda ekonomi kreatif lokal.
“Yang jalan di kita ini baru SOE, karena ini SOE menyentuh ke masyarakat dan kita lihat bukan main luar biasanya kawan-kawan UMKM di sini. Dan kita menghidupkan itu,” jelasnya.
Ia memaparkan bahwa dampak nyata terhadap perputaran ekonomi para pelaku UMKM, membuat SOE ditetapkan sebagai target utama capaian dinas untuk sepanjang tahun ini. “Jadi untuk sementara yang jalan kita Soe,” tambahnya.
Melihat tren positif perkembangan program SOE yang dipantau secara ketat dari pekan ke pekan. Dispar Kukar menangkap adanya potensi pertumbuhan yang jauh lebih besar. Lonjakan partisipasi dari para pelaku usaha mikro dan berbagai komunitas kreatif lokal membuat area pelaksanaan yang ada saat ini mulai terasa sempit.
Menyikapi hal tersebut, pihak dinas sudah mulai merancang strategi pengembangan jangka pendek untuk memperluas ruang dan daya tampung. Agar pelaksanaan program SOE mampu merangkul lebih banyak partisipan.
“Kalau kita lihat perkembangan dari minggu ke minggu kelihatannya ini bakal berkembang. Saya tadi sudah mulai pikirkan, kalau ini memang nanti bertambah tampilan, bertambah komunitas yang ikut, ya mungkin space (ruang) ini akan lebih bergeser lagi, lebih besar lagi dari ini,” tutupnya.
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Afi



