TENGGARONG – Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar), Muhammad Rifani, mendorong para peternak sapi untuk segera mengubah pola pikir atau mindset dalam mengelola hewan ternak.
Rifani menekankan bahwa sistem mengumbar sapi di lahan terbuka, justru membuat peternak kehilangan potensi keuntungan yang sangat besar dari kotoran sapi.
Menurutnya selama ini masyarakat umum selalu menganggap daging sebagai hasil utama dari peternakan sapi. Namun, bagi dirinya, daging hanyalah bonus tahunan. Sumber pendapatan harian yang sebenarnya bisa menghidupi peternak secara berkelanjutan adalah kotoran sapi.
“Kalau bagi saya pribadi, sapi itu kalau daging itu bonus. Tapi yang bisa menghidupi peternak setiap hari, kotorannya. Nah, kalau sapinya kita umbar, kita nggak dapat kotorannya tuh,” ungkap Muhammad Rifani.
Ia mencontohkan salah satu desa di Kecamatan Muara Kaman, di mana masyarakatnya sudah berhasil memanfaatkan kotoran sapi menjadi nilai ekonomi riil, untuk menekan penggunaan pupuk kimia melalui pupuk kandang. Selain itu, potensi limbah kotoran sapi ini juga sangat besar jika diolah menjadi biogas.
“Gas yang dihasilkan terbukti tidak berbau, memiliki api yang lebih biru dari pada kompor gas biasa, dan limbah padat sisa pengolahan gasnya tetap bisa digunakan sebagai pupuk organik berkualitas,” jelasnya.
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Distanak Kukar berencana mengembangkan konsep peternakan modern yang terintegrasi dan tidak lagi bertumpu pada usaha tunggal.
“Peternak yang memelihara sapi diwajibkan memiliki usaha sampingan di sekitarnya, seperti lahan hortikultura atau perkebunan sayur,” ujarnya.
Kedepan, Distanak Kukar mengusulkan sebuah model kawasan kandang komunal dengan memuat sekitar 100 ekor sapi, agar kotoran terpusat dan tidak terbuang percuma.
Kemudian instalasi biogas seperti rumah instalasi khusus, untuk mengonversi kotoran menjadi gas rumah tangga dan sumber listrik mandiri. Serta tempat pengolahan limbah padat menjadi pupuk organik siap pakai.
“Dan kebun hortikultura di sekitar kandang yang memanfaatkan langsung pupuk organik tersebut,” tambahnya.
Rifani menyebutkan potensi konversi biogas menjadi listrik ini sudah pernah diterapkan di kawasan Anggana. Tepatnya di Desa Sidomulyo yang dikenal dengan Kampung Merdeka Listrik karena mengandalkan gas mandiri, bukan PLN.
Terkait bantuan untuk peternak, Rifani menjelaskan bahwa bantuan fisik seperti pengadaan sapi, kandang, hingga lahan Hijauan Pakan Ternak (HPT) ditargetkan harus melalui pengawasan yang ketat agar bantuan tersebut berkembang.
“Meski anggaran bantuan fisik untuk tahun ini sedang kosong, program pembinaan dan bantuan kesehatan tetap berjalan,” tutupnya.
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Afi



