TENGGARONG – Wakil Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rendi Solihin, mengungkapkan terkait status pengelolaan Pujasera yang kini telah diserahkan kepada Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM). Meski pembangunan belum sepenuhnya rampung, Pemkab Kukar menargetkan fasilitas tersebut segera difungsikan.
“Ya, kita tunggu tahapan selanjutnya karena ini belum clear juga, belum selesai semua. Fasilitas juga belum banyak yang belum selesai. Tapi kami targetkan di tahun ini harus operasi karena kalau nggak hancur ini bangunan,” ungkap Rendi Solihin.
Ia menekankan pentingnya pemanfaatan gedung agar efisiensi anggaran tetap terjaga. “Artinya kalau hancur ini bangunan, PU siap nggak anggarkan lagi untuk bangun lagi? Kan dua kali bangun, tapi satu kali manfaatnya. Artinya kami pastikan tahun ini harus diresmikan, apapun kondisinya,” tegasnya.
Tidak hanya itu, ia juga menanggapi isu yang berkembang di masyarakat mengenai klaim kepemilikan lapak, Wakil Bupati secara tegas menyatakan bahwa kabar tersebut tidak benar atau hoaks
“Dan isu-isu di luar bahwa lapaknya sudah habis terjual itu hoax. Kami sudah konfirmasi ke kabid UMKM bahwa belum ada satupun lapak itu terisi oleh satu tenan,” ungkap Rendi.
Ia menjamin bahwa proses pengisian lapak akan dilakukan secara transparan. “Bahwa lapak Pujasera masih terbuka untuk umum, nanti tunggu saja, kami pasti akan informasikan di media sosial kami, ataupun di media sosial dari dinas terkait, agar ini secara terbuka,” tambahnya.
Mengenai rencana pemindahan pedagang, Rendi menjelaskan bahwa pelaku UMKM yang selama ini menempati Pasar Seni akan mendapatkan prioritas utama untuk menempati lokasi baru tersebut. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari instruksi bupati Kukar.
“Relokasi pasar seni itu memang perintah bupati sebelumnya, artinya Bapak Edi Damansyah sudah memerintahkan kami untuk pasar seni apabila memang mau dijadikan lahan parkir untuk kedaton dan sekitarnya, untuk museum dan sekitarnya bahwa mereka harus dapat prioritas di tempat ini,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa relokasi tersebut memerlukan kesepakatan dari para pedagang itu sendiri. “Tapi itu harus semuanya sepakat, jangan sampai ada yang mau, ada yang tidak, jadi susah. Kita pastikan semuanya sepakat dulu, baru kita pindahkan.” ujarnya.
Ia berharap para pedagang bisa menyambut baik kesempatan relokasi ini. “Tapi kalau mereka nggak mau juga nggak apa-apa. Artinya jangan sampai jual mahal juga nih. Sudah mau dipindahkan, dikasih tempat, malah nggak mau. Tapi kalau memang mau kami akan prioritaskan tempat di sini. Itu perintah dari Pak Bupati,” tutupnya.
Penulis : Shavira Ramadhanita
Editor : Afi



